Dinas Pertukaran Akademis Jerman atau yang biasa disebut dengan DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst) merupakan organisasi bersama dari institusi pendidikan tinggi dan asosiasi mahasiswa Jerman. Organisasi ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kerjasama akademis di seluruh dunia, terutama melalui pertukaran mahasiswa, akademisi dan ilmuan. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memiliki salah satu alumni dari program DAAD tersebut yakni Prof Dr Achmad Nurmandi, MSc, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Internasional.

Nurmandi bergabung dengan DAAD pada tahun 2010 dan telah mengikuti berbagai macam kegiatan yang dilaksanakan di Berlin, Jerman sebagai pusat dari organisasi tersebut. Selama satu minggu mengikuti workshop pada saat itu, Nurmandi menuturkan memperoleh banyak pelajaran baru sebagai salah seorang petinggi dalam sebuah Universitas. Di tahun tersebut ia masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UMY.

Menurutnya program yang diterapkan DAAD berfokus kepada cara bagaimana petinggi sebuah universitas mengelola manajemen strategi, manajemen keuangan, strategi manajemen riset, dan pengelolaan sumber daya manusia yang baik. Hal ini sangat penting untuk seorang pemimpin universitas khususnya ia sebagai seorang dekan, untuk memahami bagaimana manajemen yang harusnya diterapkan di universitas seperti di negara ASEAN. Ini merupakan upaya untuk mengikuti arus sebagai salah satu universitas yang diakui keberadaannya oleh negara-negara di ASEAN bahkan di dunia.

“Satu keuntungan bergabung dengan para petinggi universitas yang tergabung dalam organisasi DAAD ini adalah, kami berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai cara menerapkan manajemen terbaik di universitas kami khususnya lingkup Negara ASEAN. Bagi saya, hal itu setidaknya perlu dipahami oleh dekan atau wakil rektor, atau kepala perencanaan program. Selain itu juga ketika pertemuan di ASEAN, kami saling berbagi pengetahuan tentang kesulitan yang dialami selama mengelola manajemen strategi, keuangan, riset, dan SDM kampus,” papar Nurmandi.

Nurmandi menambahkan DAAD telah memberinya gambaran mengenai cara mengelola internasionalisasi program yang ada di FISIPOL UMY. “Saya mencoba mengimplementasikan strategi tersebut di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dalam hal program internasional. Saya tahu dari Dean Course tersebut bahwa internasionalisasi program memiliki indikator yang harus dipenuhi seperti student activity, join research, dan pertukaran pelajar.”

Seperti yang sudah disebutkan bahwa pengetahuan tentang DAAD juga sangat penting untuk dimiliki oleh petinggi universitas salah satunya wakil rektor. Prof Nurmandi yang dilantik sebagai Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Internasional pada 2017, mengatakan bahwa pengetahuan yang didapat dari program DAAD sudah mulai diimplementasikan di ruang yang lebih besar yakni universitas bukan lagi fakultas. Terlebih UMY sendiri memiliki tujuan untuk menjadi universitas yang bereputasi Internasional, dan harapan itu direncanakan bisa mulai terlaksana pada 2020, dengan target akhirnya 25 tahun ke depan atau tepatnya 2042.

“Indikasi universitas bereputasi internasional adalah publikasi, citation, jumlah doktor dan profesor, jumlah murid internasional, dan publikasi jurnal internasional. Di tahun 2018 lalu publikasi jurnal internasional UMY mendapat skor 104 dari penilaian indeks scopus. Hal ini sangat meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya mendapat skor 45 di tahun 2017, dan skor 20 pada 2016.”

Dengan adanya hal itu, UMY dapat dikatakan telah menuju ke arah yang seharusnya untuk mewujudkan cita-cita sebagai kampus yang bereputasi internasional. Prof Nurmandi berharap atmosfer internasional yang sudah dibangun di lingkungan kampus terpadu UMY tidak akan luntur, dan UMY terus berkembang tidak hanya di lingkup nasional namun juga bersaing di kancah Internasional. Serta ke depannya ada dekan atau petinggi UMY yang dapat mengikuti program DAAD, agar lebih mengetahui bagaimana cara mengelola sebuah manajemen kampus yang baik. (Hbb)