Kelahiran PKS bisa diterima dan eksis di masyarakat di Kabupaten Kebumen karena PKS melakukan pendekatan ke masyarakat melalui berbagai bidang, yakni melalui kegiatan-kemasyarakatan seperti; keagamaan, pendidikan, budaya, sosial, dan ekonomi.

Temuan tersebut sebagaimana disampaikan Mochamad Parmudi dalam Ujian Tertutup Disertasi yang diselenggarakan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik pada Senin, (21/7) di Ruang Study Hall Pascasarjana Lantai 1, Gedung Kasman Singodimedjo, Kampus Terpadu UMY. Dihadapan  tim penguji, Parmudi memaparkan disertasinya yang berjudul “Dinamika Politik Islam di Indonesia Era Reformasi” (Studi Fenomenologis Partai Keadilan Sejahtera Di Kabupaten Kebumen Tahun 1999-2014).

Parmudi menjelaskan bahwa pendekatan dilakukan tanpa membawa misi dakwah atau membawa perbedaan faham dan murni dengan tujuan membantu masyarakat. Sehingga walaupun terjadi perbedaan faham dengan masyarakat yang notabene warga nahdliyin, tidak menimbulkan konflik bagi eksistensi PKS di Kebumen. Hal ini juga tidak terlepas dari eksistensi PKS di Indonesia yang  mengadopsi pemikiran Hasan al-Banna dari Ikhwanul Muslimin di Mesir tersebut disesuaikan dengan situasi, kondisi, serta budaya di Indonesia. Di satu sisi, boleh dikatakan bahwa PKS cerdas dalam merebut hati masyarakat Indonesia secara umum termasuk di Kebumen, tetapi di sisi lain, PKS di Indonesia justru kehilangan citranya sebagai partai dakwah yang berideologikan Islam. Hal ini justru sedikit demi sedikit mulai melunturkan watak ideologis PKS di Indonesia. Dan, akhirnya, PKS menjadi terlihat cenderung bersifat pragmatis (elektoralis), permisif, dan kompromis dalam berpolitik.

Dia menambahkan budaya jamaah tarbiyah sebagai  setting  dari dinamika politik  internal dan kontestasi yang ada dengan  strategi elektoral DPP PKS mempengaruhi kinerja PKS di arena politik lokal Kebumen karena permasalahan yang terjadi baik internal maupun eksternal di Pusat merupakan permasalahan juga bagi PKS di Kabupaten Kebumen. Di antara permasalahan yang sangat berpengaruh adalah munculnya Kubu Harakah dan Kubu Hizb merupakan benturan antara kader PKS yang memegang teguh ideologinya sebagai jamaah sebagaimana gerakan Tarbiyah yang dilakukan dengan pihak yang membawa atribut partai sesuai dengan kebutuhan yang cenderung pragmatis. Misalnya; perubahan partai menjadi terbuka,inklusive.

Hadir sebagai Tim Penguji diantaranya, Dr. Hasse J., M.A (Ketua Sidang), Prof. Tulus Warsito, M.Si (Promotor/Penguji I), Dr. Sidik Jatmika, M.Si (Co-Promotor/Penguji II), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc (Penguji III), Dr. Ulung Pribadi, M.Si (Penguji IV) dan Prof. Dr. Kamsi, M.A (Penguji V).

Setelah mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan dan keberatan Tim Penguji dalam Ujian Tertutup Disertasi, Tim Penguji memutuskan bahwa Mochamad Parmudi dinyatakan LAYAK maju ke Ujian Promosi Doktor (Terbuka) dengan perbaikan. Mochamad Parmudi  diminta menyempurnakan disertasi sesuai saran, masukan, dan arahan dari Tim Penguji.