Faktor Politik Turut Pengaruhi Perkembangan LGBT

April 5, 2016 oleh : superadmin-pa

IMG_0148

Isu terkait LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgander) hingga kini masih marak diperbincangkan kalangan masyarakat. Berbagai faktor yang menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan menjadi LGBT, layaknya juga patut diketahui bersama. Faktor seperti pengaruh keluarga, lingkungan sosial, dan juga politik juga turut mempengaruhi perkembangan LGBT, bahkan hingga ke negara Indonesia.

Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Very Julianto, M.Psi selaku pakar Psikologi dan juga dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam acara Launching Majalah dan Diskusi “Mengambil Peran atau Diam untuk LGBT” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa Nuansa (LPPM) UMY, pada Selasa (29/3) bertempat di Gedung Ar Fachruddin B Lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Dalam hal politik, menurut Very, pengaruh politik dalam permasalahan LGBT pada dasarnya bermula dari negara Amerika, dan negara-negara bagian Eropa yang turut menjadikan LGBT sebagai hal yang wajar, dan kemudian diatur dalam undang-undang. “Pengaruh tersebut lantas membawa dampak bagi sebagian negara dalam menyikapi LGBT tersebut. Penyebaran LGBT sebenarnya juga bukanlah isu yang baru, dan hingga saat ini penyebarannya juga masih cukup masif, salah satunya yang terjadi di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, dalam bidang Psikologi, Very kembali melanjutkan, penanganan dalam permasalahan LGBT harus melalui diagnosa-diagnosa awal mengapa seseorang dapat terpengaruh menjadi LGBT. Dalam sudut pandang Psikologi terdapat beberapa penyebabnya, diantaranya yaitu pola asuh, modeling, dan juga traumatic. “Penjelasan terkait faktor pola asuh dalam hal ini yaitu disebabkan oleh salahnya orangtua dalam mendidik anak, utamanya dalam hal melakukan kekerasan dan juga pengucilan terhadap kekurangan yang terdapat dalam diri anak, sedangkan dari faktor modeling disebabkan oleh pengaruh lingkungan, yang didominasi oleh kelompok-kelompok LGBT, terakhir dari faktor traumatic, hal tersebut disebabkan permasalahan-permasalahan sebelumnya yang menjadi trauma berkepanjangan,” ungkapnya.

Berbagai penanganan dalam bidang Psikologi pada dasarnya dapat membantu penyembuhan LGBT, penanganan yang paling utama yaitu dalam hal preventif. “Penanganan yang paling utama bagi LGBT yaitu mencegahnya dengan gencar, pencegahan yang dilakukan membutuhkan dukungan dari keluarga, pertemanan, dan juga lingkungan,” tambah Very.

Sementara itu ditambahkan oleh Aly Aulia, Lc, M.Hum selaku anggota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah dan dosen Ilmu Komunikasi UMY mengungkapkan, dalam kajian Agama tidak ada istilah LGBT, mudahnya saja jika dilihat dari Al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia, yaitu laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan. “Sudah cukup jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an bahwa laki-laki dalam asasnya berpasangan dengan perempuan, tidak ada istilah berpasangan dengan sesama jenis, karena hal tersebut sudah cukup jelas asasnya,” ungkapnya.

Kembali ditambahkan oleh Aly, peran masyarakat khususnya masyarakat muslim dalam menyikapi isu LGBT yaitu dengan tidak mengutamakan kekerasan. “Prinsip yang harus dilakukan oleh masyarakat terhadap kaum LGBT yaitu mengedepankan asas-asas keadilan, dan tidak mendiskriminasi kaum LGBT berlebihan, selain itu peran masyarakat yang utama yaitu kembali menyadarkan kaum-kaum LGBT tersebut, baik dengan bantuan psikologi maupun dalam hal spiritual,”ungkapnya.

Terlepas dari pembahasan diskusi tersebut, majalah Nuansa Median edisi kali ini mengulas menganai beberapa hal yang dinilai sangat informatif dalam fenomena LGBT. “Kami memberikan paparan informasi mengenai LGBT, mulai dari fenomena historis hingga reaksi publik terkini. Kami juga memberikan paparan dari berbagai perspektif, baik dari akademis dan non akademis. Tujuannya agar para pembaca cukup tersentil kembali dengan pernyataan afirmatif yang kami jadikan judul Majalah, yaitu akankah mereka mengambil peran atau tetap memilih diam, “ ungkap Denis, selaku redaktur pelaksana yang juga turut hadir dalam diskusi. (Adam)