Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik menggelar Seminar Kemuhammadiyah dan Kebangsaan bertajuk “Prof. Dr. KH. Abdul Kahar Muzakkir, Ulama dan Pejuang Muslim”, Rabu (23/10) di Amphiteater Pascasarjana Kampus Terpadu UMY.

Acara ini menghadirkan pembicara para tokoh besar muhammadiyah seperti, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Prof. Azyumardi Azra, M.A., CBE (Sejarawan/Cendekiawan Muslim Indonesia), Prof. Jawahir Thontowi, Ph.D (Ahli Hukum Internasional UII), dan Dr. Mutiah Amini, M.Hum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Rektor UMY Gunawan Budiyanto menyampaikan pentingnya kalangan anak muda mengenal dan memahami tokoh perjuangan bangsa.

“Tokoh pejuang kemerdekaan seperti KH. Mudzakkir memiliki jasa yang besar bagi bangsa ini, walau kurang mendapat perhatian banyak orang,” ungkap Gunawan saat membuka seminar.

Prof. Haedar Nashir melihat dua sisi yang dapat kita pelajari dari Kahar Muzakkir. Pertama, dalam usia muda, secara relawan sudah menjadi diplomat Indonesia di luar negeri, ketika Indonesia sedang berjuang untuk kemerdekaan pada tahun 1930-an. Kedua,  beliau merupakan adalah anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), kemudian dia juga masuk di dalam panitia 9 dalam rumusan pembukaan UUD 45 sekaligus Piagam Jakarta.

Sementara itu, Prof. Azyumardi Azra mengungkapkan bahwa Kahar Muzakkir mempunyai pandangan politik Islam yang visioner. Salah satu usulannya yang disetujui pada masa kemerdekaan adalah sila pertama pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Sebelumnya sila pertama tidak ada kata Yang Maha Esa. Atas usulan KH. Muzakkir sila pertama Pancasila menjadi sangat islami, itu menunjukkan bahwa Pancasila sudah sangat sesuai dengan nilai Islam. Dia tidak hanya memikirkan kepentingan berbangsa tetapi juga tentang bagaimana bangsa Indonesia mempunyai ideologi yang sesuai dengan nilai Islam,” terangnya.

Dr. Mutiah Amini juga menegaskan peran besar dari sosok Kahar Muzakkir.

“Bisa kita lihat dari bagaimana mungkin Kotagede yang sebelumnya merupakan basis terbesar komunis menjadi daerah yang Islami berkat tangan beliau. Hal ini tentunya dapat dilakukan atas pemikiran inklusif beliau,” pungkasnya.