IMG_0587
Ki Bagus Hadi Kusumo memang baru saja diberikan gelar sebagai salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia. Namun perannya dalam membuat pembukaan UUD 1945 dan juga perjuangannya menegakkan akidah Islam selama masa penjajahan patut untuk dipahami dan diteruskan oleh generasi bangsa selanjutnya. Tidak hanya didokumentasikan dalam bentuk karya tertulis, namun kisah perjuangan beliau sudah selayaknya diangkat ke dalam layar lebar.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Bambang Cipto, dalam Seminar Kepahlawanan Ki Bagus Hadikusumo di Ruang Sidang Gedung Pascasarjana UMY lantai 4 pada Rabu (18/11). Dalam seminar tersebut, turut hadir pula Dr. Gunawan Budiyanto, Wakil Rektor I UMY yang juga merupakan cucu dari Ki Bagus Hadi Kusumo, Prof. Dr. Buya Syafii Maarif, dan Dr. Martino Sardi sebagai pembicara.

Prof. Bambang juga menyampaikan, jika perjuangan Ki Bagus Hadi Kusumo tersebut hanya dipublikasikan melalui tulisan atau buku masih kurang menarik. Karena minat baca masyarakat saat ini mulai berkurang. “Oleh karena itulah, perjuangan Ki Bagus ini memang sudah selayaknya dibuat film. Karena itu justru yang akan lebih menarik minat masyarakat untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok dan perjuangan Ki Bagus. Dan UMY juga siap mendukung jika perjuangan Ki Bagus ini difilmkan,” jelasnya.

Sementara itu, Prof. Buya Syafii Ma’arif menyampaikan bahwa sosok Ki Bagus Hadi Kusumo merupakan salah satu pendiri negara yang keras, tegas namun luwes. “Saya membenarkan dari yang disampaikan oleh Pak Gunawan bahwa sikap Ki Bagus merupakan buah dari ajaran-ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Mungkin kalau tidak dididik oleh Ahmad Dahlan, beliau hanya menjadi kiayi biasa,” jelas Buya.

Menurut Buya, Ki Bagus merupakan seorang petarung yang memiliki argumen kuat. Orang Muhammadiyah sudah seharusnya bertutur jelas, memiliki prinsip yang kuat dan tegas dalam berargumentasi. Argumen yang kuat itu juga harus disertai dengan kebenaran mutlak, tidak dengan memonopoli kebenaran. “Seperti diungkapkan dalam dalil Laa ikraaha fid diin. Yang diartikan sebagai tidak ada paksaan dalam agama. Maka ketika berargumen harus berlandaskan dalam kebenaran meski tidak dapat diterima oleh pihak lain,” jelasnya.

Kekaguman atas kepahlawanan Ki Bagus Hadi Kusumo juga disampaikan oleh Dr. Martino Sardi yang sejak 1990 telah melakukan riset terhadap Ki Bagus dan mempresentasikannya di negara-negara di Eropa. “Sejak 1990 saya kagum akan tokoh nasional Ki Bagus Hadi Kusumo. Pemikirannya mencerminkan seorang tokoh yang kepemimpinannya dilakukan tanpa pamrih,” tuturnya.

Ia mengungkapkan bahwa yang paling menarik dari pemikiran Ki Bagus adalah dasar keimanan akan Allah yang mempengaruhi seluruh pemikiran, sikap dan tindakannya, yang tetap teguh berjuang demi kebaikan, kebenaran, kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, solidaritas, dialog, dan keutuhan alam ciptaan. “Pada tahun 1993 saya pernah merumuskan perjuangan Ki bagus dalam bahasa latin yang menjadi diskusi hangat di Italia. Ki Bagus, Vir pacificus et totus islamicus yang artinya Ki Bagus, putra yang damai dan sungguh-sungguh Islam,” terangnya.

Politik Diplomasi Ki Bagus, menurut Dr. Martino, mengalir dari sikap imannya yang teguh akan Allah. Oleh karena itu dalam berdiplomasi, Ki Bagus sangat respek terhadap sesamanya. Karena sesamanya beliau pandang sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling baik. Politik diplomasinya antara lain dalam pembicaraan, diskusi dan ceramah di sidang-sidang BPUPKI dan PPKI, dan dalam penolakannya terhadap perintah penguasa Jepang yang mengharuskan siswa-siswa sekolah di tanah jajahannya untuk melaksanakan kebaktian menyembah dan menghormati dewa matahari atau Amaterasu Omi Kami.

Dari iman akan Allah yang sungguh-sungguh dan mendalam itu, lanjut Dr. Martion, Ki Bagus mau menyatakan bahwa soal iman merupakan perkara hidup, yang tidak dapat diganggu-ganggu oleh siapapun, bahkan penguasa sekalipun. Perkara iman jauh melebihi harga diri orang, karena Allah-lah yang menentukan kehidupan ini. Bahkan hingga penguasa Jepang pun sangat menghormati apa yang dikehendaki oleh Ki Bagus. “Dengan demikian adanya sikap yang saling respek satu sama lain, akan menimbulkan kerjasama yang luar biasa,” tutupnya. (Deansa)