Bagi mahasiswa baru, mengikuti kuliah perdana adalah satu hal yang ditunggu-tunggu. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Program Studi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk menyambut mahasiswa baru tahun ajaran 2018/2019. Program Pascasarjana UMY mengelar kuliah perdana pada, kamis (28/03) bertempat di Amphiteater Gedung Pascasarjana lantai 4 dengan menghadirkan pemateri dari Bank Pembangunan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD DIY) Drs. Santoso Rohmat M.M.

Mengangkat tema bertajuk Tren dan Isu-isu Industri Perbankan di Era Revolusi Industri 4.0, sebagai direktur BPD DIY Santoso menjelaskan tentang sharing ekonomi menjadi lebih mudah pada era revolusi industri 4.0. “Era industri diawali pada tahun 1784 dengan sebutan industri 1.0 kemudian di tahun 1870 industri 2.0 mulai merambah, sampai pada industri 3.0 pada tahun 1959 dan sekarang ini kita tengah menikmati era industri 4.0. Pada era 4.0 ini sharing seputar ekonomi menjadi lebih mudah. Seperti pada kenyataannya, sumber daya ekonomi banyak dikerjakan oleh anak-anak muda, yang memiliki kreativitas, pemikiran, daya saing dan juga gagasan-gagasan yang jauh lebih baik. Dengan memanfaatkan teknologi yang serba canggih semuanya menjadi lebih mudah, termasuk salah satunya di bidang ekonomi perbankan,” papar Santoso.

Selain mengenai sharing ekonomi, Santoso juga memaparkan dampak yang terjadi pada bisnis-bisnis yang ada di Indonesia dan juga kepada masyarakat, dengan memasuki industri 4.0 saat ini. “Tentu di era 4.0 ini, impact yang terjadi juga berimbas kepada para pebisnis-pebisnis dan masyarakat di Indonesia. Dampak untuk pebisnis dapat berupa ditemukannya efisiensi dan cara baru di setiap value dari produk. Selain itu distrupsi di berbagai industri, terutama yang bertemakan tentang sharing ekonomi contohnya pada Uber, Airbnb, Grab, dan Gojek. Dampak yang lain juga terjadi di masyakarat, dimana dengan era industri 4.0 ini masyarakat jauh lebih mudah untuk mendapatkan informasi dan membandingkan berbagai produk-produk yang dibutuhkan,” paparnya lagi.

“Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk tetap memperhatikan tantangan-tantangan yang terjadi seiring dengan berkembangnya industri 4.0 tersebut, selain terjadinya shifting di lapangan pekerjaan, masyarakat juga harus beradaptasi dengan cepat dengan era revolusi industri 4.0 ini,” tambah Santoso.

Santoso menambahkan adanya risiko dan efek distrupsi teknologi yang bisa saja terjadi. “Distrupsi teknologi menciptakan risiko strategis yang dapat menganggu dan menghancurkan bisnis seketika apabila tidak dengan cermat dan cepat menyikapinya. Untuk itu maka perlu memperluas lingkup tentang manajemen risiko, selain itu perusahan harus lebih resilien, adaptif dan tangkas agar tetap survive dan sukses dalam lingkungan ‘VUCA’(volatine, uncertain, complex, ambiguous). Serta haruslah menerapkan kemampuan yang dilandasi budaya inovatif, antisipatif, responsif dalam mengelola ancaman distrupsi teknologi secara sistematik yang dapat mengubah ancaman menjadi peluang untuk tumbuh berkelanjutan,” tandasnya. (CDL)