Merupakan sebuah tradisi bagi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) untuk mengadakan Masa Ta’aruf (mataf) dalam menyambut mahasiswa baru pada setiap awal tahun ajaran baru kampus tersebut. Tidak terkecuali pada kali ini UMY kembali mengadakan mataf untuk menyongsong kedatangan mahasiswa baru angkatan 2017 dimana Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA dan Ahmad Hanafi Rais, S. I. P., M. P. P. didaulat untuk menjadi pembicara Mataf UMY pada hari Senin (21/8) di gedung Sportorium UMY. Dalam kesempatan tersebut kedua pembicara mengajak para mahasiswa baru UMY untuk menjadi pribadi yang intelektual dan pemberani untuk memberikan perubahan kepada bangsa dan negara.

Din menyampaikan bahwa para mahasiswa harus menjadi pribadi yang intelektual untuk memberikan kontribusi yang baik untuk negara. “Saat ini anda semua sudah resmi menjadi bagian dari civitas akademika UMY yang merupakan salah satu kampus terbaik dengan akreditasi A di Indonesia. Untuk itu anda dituntut menjadi seorang yang intelektual, yang didefinisikan dengan seorang yang mampu berpikir kritis dan cenderung mengamati permasalahan yang terjadi pada masyarakat untuk kemudian mampu memproposikan sebuah solusi. Dalam keterangan tersebut anda dapat mengetahui salah satu ciri dari seseorang yang intelektual itu adalah berpikir kritis. Berarti ia akan mengedepankan akal pikiran dan rasionalitas, bukan emosi. Di situ juga disebutkan bahwa ia juga cenderung melakukan pengamatan dan penelitian akan masalah, mengapa hal tersebut dapat terjadi. Untuk kemudian dapat melakukan refleksi agar dapat menghasilkan solusi. Menjadi seorang problem solver, itu tujuan anda dan bukan malah sumber masalah,” papar Din.

Menurut Din, untuk mampu berpikir kritis bahkan diajarkan dalam Islam. Sebagaimana dicerminkan dalam istilah ulul albab. “Al-quran mengajak kita menjadi pribadi yang berpikir dan berakal. Ini dapat kita ketahui dari banyak firman-Nya yang berbunyi afalaa tatafakkaruun dan afalaa ta’qiluun. Selain itu ada istilah ulul albab yaitu seorang yang mampu menggabungkan kemampuan intelektual dan spiritual. Mereka adalah pribadi yang mampu berdzikir kepada Allah baik ketika berdiri atau bahkan berbaring, sekaligus memikirkan tentang apa-apa yang terjadi di dunia. Itulah yang harus menjadi model panutan anda, karena dengan itu anda dapat merancang masa depan anda dengan baik,” ungkap Din melanjutkan.

Senada dengan Din, Hanafi Rais juga menyemangati agar para mahasiswa baru angkatan 2017 menjadi pribadi yang pemberani. “Saya ingin teman-teman yang ada di sini menjadikan nasihat pak Din sebagai inspirasi harian. Saya ingin berbagi dengan teman-teman mahasiswa sekalian, pada tahun 98 Indonesia mengalami babak baru dengan terjadinya reformasi yang mengubah sistem politik Indonesia. Reformasi saat itu membutuhkan semangat dan dorongan yang sangat besar. Pada saat itu tuntutannya hanya satu, turunkan rezim otoriter dan ganti dengan yang lebih demokratis. Hasilnya adalah kebebasan dan segala hal lainnya yang kita nikmati saat ini. Itu semua merupakan hasil dari keberanian sekelompok orang,” ujarnya.

“Untuk itu saya ingin 5000 lebih mahasiswa baru UMY ini menjadi pemberani. Saya ingin kalian menumbuhkan rasa berani di diri masing-masing untuk melawan ketidakadilan. Jadikan keyakinan kita akan ke-Maha Kuasaan Allah sebagai sumber dari keberanian kita untuk melawan rasa malas dan menunda-nunda. Berkaryalah dan cetaklah prestasi sebanyak-banyaknya, tidak perlu berlama-lama di universitas karena untuk sukses yang kalian perlukan hanyalah menjadi berani,” ungkap Hanafi menutup sambutannya. (raditia/wsn)