Membaca Kembali Politik Islam Indonesia Kontemporer

Februari 13, 2019 oleh : superadmin-pa

Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik menggelar Seminar Bulanan bertajuk “Membaca Kembali Politik Islam Indonesia Kontemporer”, Selasa (12/2), Ruang Sidang Direktur Pascasarjana UMY. Tampil sebagai narasumber, Prof. Noorhaidi Hasan, Ph.D (Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga) dan M. Najib Azca, Ph.D (Sosiolog Universitas Gadjah Mada), serta Dr. Hasse J., M.A. (Moderator). Seminar dihadiri mahasiswa program doktor, magister, dan umum.

Dalam kesempatan ini, Noorhaidi menyampaikan persepsi ulama tentang negara-bangsa, membaca masa depan politik Islam di Indonesia. Dia mengungkapkan bahwa 71,56 persen ulama Indonesia menerima negara-bangsa dengan tingkat penerimaan bervariasi dari konservatif, moderat, inklusif sampai progresif. Sedangakan 16,44 persen ulama indonesia menolak negara-bangsa dengan tingkat penolakan juga bervariasi dari eksklusif, radikal sampai ekstrem.

“Penerimaan mayoritas ulama terhadap negara-bangsa, yang disertai penolakan mereka terhadap kekerasan, bermakna kegagalan kaum Islamis dalam berkompetisi merebut ruang publik dengan menjajakan ideologi khilafah dan ekstremisme kekerasan,” ungkap Noorhaidi.

Noorhaidi menjelaskan keberhasilan pemerintah dan kekuatan masyarakat sipil mengobarkan perang melawan radikalisme dan terorisme serta dinamika politik global berkontribusi terhadap penerimaan tersebut walaupun tidak berarti semua masalah sudah selesai.

“Adanya 16,44 persen yang menolak percaya dengan doktrin ketidakterpisahan antara din wa al-daulah, di samping sering mengekspresikan grivances mereka terhadap situasi sosial, ekonomi dan politik sekaligus disfungsional negara (kerap bernuansa konspiratif,” tambah Noorhaidi.

Sementara itu, Najib Azca melihat runtuhnya rezim otoriter Suharto pada 1998 jadi momen pembuka kemunculan (kembali) gerakan Islamisme radikal di Indonesia.

“Momen itu memberikan “political opportunity structure” kepada gerakan Islam radikal untuk tampil di arena politik terbuka, meninggalkan arena bawah tanah,” terang Najib Azca.

Najib Azca menjelaskan secara historis berakar pada masa awal kemerdekaan dan kembali bangkit pada awal 1980an, gerakan Islam radikal melakukan ekspansi ‘jejaring’ pasca pecahnya kekerasan komunal agama di Indonesia timur pasca 1998 dengan framing ‘perang agama’.

“Mewujudkan 3 corak aktivisme Islam (‘gerakan jihad, ‘gerakan dakwah’ & ‘gerakan politik’) gerakan Islam radikal telah mewarnai demokrasi belia yang tengah bertumbuh di Indonesia,” tutup Najib Azca.