Narasi Welas Asih

Mei 28, 2018 oleh : superadmin-pa

Saat berhadapan dengan orang lain yang berbuat buruk sekalipun, kedepankan ihsan..

REPUBLIKA.CO.ID Oleh: Haedar Nashir

Ketika seorang Muslim yang berpuasa diajak bertengkar pada bulan Ramadhan, Nabi memberikan pesan luhur: katakan inni shaimun, aku sedang berpuasa. Sungguh betapa dahsyat ajaran puasa dalam mendidik rohani insan beriman agar mampu menunjukkan sikap ihsan sebagai kebaikan semesta.

Nabi Muhammad menemukan seseorang yang tengah memaki hamba sahayanya, padahal kala itu tengah berpuasa. Nabi lalu memberi orang itu makanan. Si fulan itu sungguh kaget dan berkata kepada Nabi, “Aku ini sedang berpuasa, ya Rasul”. Nabi kemudian menjawab, yang artinya, “Banyak orang berpuasa, tiada hasil puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

Pernah pasca-Perang Uhud Nabi ditanya oleh para sahabat, “Ya Rasulullah, mengapa engkau maafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang melukai di kala Perang Uhud?” Padahal, kala itu Nabi terluka sampai giginya pecah. Nabi pun menjawab, “Aku diutus bukan untuk melaknati orang, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat dan risalah dakwah.”

Nabi pun sosok pemaaf. Nabi bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya Allah itu pemaaf dan suka memaafkan.” Di lain hadis Nabi bersabda, “Barang siapa memberikan maaf ketika dia mampu membalas, maka Allah akan mengampuni dia di saat kesukaran.” Beliau pun bersabda, “Bahwa orang yang memberikan maaf kepada orang yang menzaliminya karena mengharap ridha Allah maka Allah akan menambahkan kemuliaan kepadanya di hari akhirat.”

Penggalan kisah dan sabda Nabi itu membuktikan baginda Rasulullah meneladankan kepada umatnya ajaran kasih sayang atau welas asih terhadap sesama, meski pada orang yang dianggap musuh dan yang tidak disukai sekalipun. Orang Islam harus mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya, jangan menyakiti dan memperlakukan orang lain dengan kasar dan sewenang-wenang. Islam niscaya menghadirkan ajaran dan perangai kasih sayang!

Kasih sesama

Islam sesungguhnya agama kasih. Nabi bahkan diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya: 107), yang mengandung makna menebar kasih sayang yang melintasi. Jangankan terhadap sesama manusia, bahkan tehadap seluruh makhluk ciptaan Allah setiap insan Muslim niscaya memberikan kasih sayang. Dalam salah satu hadisnya Nabi bersabda, yang artinya, “Barang siapa yang mengasihi apa yang di bumi, maka yang di Atas akan mengasihimu.” Allah SWT bahkan memihak para hamba-Nya sejauh hamba-hamba itu mengasihi dan membela sesamanua.

Inilah ajaran mulia Islam tentang welas asih. Ajaran kasih sayang dalam Islam harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Pada suatu ketika, Ibnu Abbas menyampaikan wejangan bahwa Allah Yang Rahman dan Rahim memerintahkan kepada orang beriman untuk bersabar tatkala ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang berbuat jahil, dan memaafkan manakala ada yang berbuat buruk.

Jika setiap hamba melakukan perbuatan yang baik tersebut, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Mereka yang semula bermusuhan malah dapat menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik tersebut.

Islam harus membentuk perangai umatnya agar lurus dan lapang hati dalam menghadapi keadaan. Nabi bersabda, ahabbu al-din ila Allah al-hanafiyatu al-samhah, bahwa agama yang paling dicintai di sisi Allah adalah agama yang lurus dan lapang hati (HR Muslim dari Ibn Abbas). Makna sebaliknya, umat Islam jangan menampilkan perangai yang buruk dan kerdil diri, baik terhadap sesama seiman maupun terhadap mereka yang berbeda agama dan golongan. Tampilkan sikap lurus dan lapang hati sehingga wajah Islam sebagai agama welas asih hadir di hadapan sesama.

Dalam berdakwah dan menyikapi orang lain yang berbeda keyakinan sekalipun, sungguh terhormat manakala lurus dan lembut hati. Kelembutan hati jika tetap dilandasi kekuatan prinsip atas keyakinan Islam tidak akan menjadikan diri rendah atau kalah di hadapan orang lain. Allah bahkan mengajarkan kepada mukmin dan Muslim untuk berlemah-lembut sebagaimana firman-Nya dalam Alquran, yang artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali Imran: 159).

Nabi dengan kekuatan prinsipnya juga memiliki sifat lemah lembut dan tidak kasar hati. Menurut al-Hasan al-Bashri, sosok sufi ternama, “Berlaku lemah lembut inilah akhlak Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlak yang mulia ini.”

Mereka yang memiliki sifat membalas keburukan dengan kebaikan tentu memiliki kekuatan rohani kesabaran yang luar biasa. Menurut mufasir ternama Ibnu Katsir Abu Fida Ismail, “Bahwa yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yang menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”

Lantas, untuk apa dan atas nama apa insan Muslim menjadi garang, keras, dan bersikap penuh amarah terhadap sesama? Termasuk bagi para pemimpin, mubaligh, penyebar risalah, serta sosok-sosok Muslim dan mukmin di mana pun berada dan dalam menyikapi banyak hal dalam berdakwah, mengapa harus kasar hati? Sejauh masih dapat lembut hati dalam menyikapi keadaan, maka ke depankanlah sikap dan perangai yang mulia itu. Kuat prinsip, murni akidah, dan sebagai penggerak Islam tidak harus garang dan keras hati sehingga nilai-nilai habluminannas makin luruh dan kering. Bukankah Nabi bersabda, “Aku tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Keutamaan perilaku

Kini sikap welas asih dan keutamaan akhlak umat Islam diuji. Dalam kehidupan sehari-hari akan selalu hadir peristiwa dan keadaan yang membuat insan beriman marah, jengkel, dan masygul hati. Kehidupan pada era kini, baik karena faktor internal maupun luar akan hadir berbagai keadaan serbakeras dan ragam masalah yang mewarnai kehidupan di mana saja. Sebagai insan beriman tentu diajarkan agar setiap masalah harus disikapi dan dihadapi guna dicari penyelesaiannya. Namun, umat Islam mesti memiliki keagungan hati, pikiran, dan tindakan dalam menghadapi kehidupan yang tidak menyenangkan sekalipun.

Manusia Muslim selaku insan biasa memang berhak marah dan masygul. Namun, marahnya insan beriman mesti berbeda jauh dari mereka yang tidak beriman atau siapa pun dia yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Umat Islam di negeri ini niscaya mengikuti jejak Nabi bagaimana mempraktikkan sikap serbautama, seperti adil, lapang hati, sabar, toleran, lembut, dan segala kebaikan dalam hubungan dengan sesama. Termasuk saling menghormati dengan umat yang beragama lain. Memupuk jiwa toleran dan lapang hati tidak hanya dalam keindahan lisan dan tulisan, tetapi tidak kalah pentingnya dalam tindakan.

Bagi Muslim yang baik dan tulus, lebih-lebih bagi para ahli ibadah, sungguh niscaya menampilkan sikap lapang hati dan welas asih meski kepada orang yang menzalimi sekalipun. Ikutilah perintah Allah yang utama ini, “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159).

Ketika kekerasan, kevulgaran, dan dunia serbagarang hadir dalam kehidupan saat ini, termasuk terorisme, maka sungguh mulia manakala umat Islam, lebih-lebih pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, menampilkan narasi pikiran, ujaran, sikap, dan tindakan welas asih sebagai perwujudan ihsan dalam ajaran Islam. Jangan memberikan zona toleran seinci pun tehadap setiap bentuk kekerasan atas nama apa pun, bertujuan apa pun, dan oleh siapa pun. Kekerasan adalah kekerasan, yang menggerus welas asih antarsesama dan merugikan kehidupan.

Perbedaan politik, cara pandang, dan posisi antaranak negeri dalam kehidupan umat dan bangsa di negeri ini tidak diiringi dengan menebar kebencian, perseteruan, permusuhan, kekerasan, dan kesewenang-wenangan yang menjadikan kehidupan menjadi kehilangan jiwa welas asih dan kebaikan semesta. Umat beragama, lebih-lebih umat Islam sebagai penduduk mayoritas, niscaya menampilkan uswah hasanah, termasuk dalam menebar ajaran welas asih di tubuh bangsa dan negeri tercinta ini.

Para tokoh dan elite pun mesti memberikan keteladanan dalam menampilkan perangai welas asih dan tidak mengirimkan pesan-pesan serta ajakan yang garang serta menyebar amarah dan permusuhan. Hentikan memproduksi pesan-pesan yang beraura negatif, buruk, dan marah yang boleh jadi akan diikuti oleh umat yang awam. Peran para tokoh wibawa sungguh mulia dalam meneladankan perangai utama itu. Umat dan warga bangsa di negeri ini sungguh mengikuti para pemimpinnya sebagai panutan diri. Ketika para pemimpin dan elitenya menyebar ajaran welas asih, umat pun akan menirunya.

Jiwa welas asih yang bersih dan lapang menunjukkan kemuliaan setiap insan Muslim, bukan kejatuhan atau rendah posisi. Ketika berhadapan dengan orang lain yang berbuat buruk sekalipun, sikap welas asih, dan ihsan itu harus tetap dikedepankan untuk membedakan diri selaku Muslim dengan lainnya. Allah berfirman, yang artinya: “Tolaklah (keburukan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushilat: 34-35). Lalu, mengapa mesti serbagarang dan menebar gaduh yang menggerus jiwa welas asih selaku insan Muslim yang autentik?

Sumber: http://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/05/27/p9cmmg440-narasi-welas-asih