Pemilu 2014 di DPRD DIY, seluruh partai politik peserta pemilu telah mengimplementasikan affirmative action kuota 30% perempuan. Angka rata-rata pencalonan caleg perempuan oleh partai politik mencapai angka 40%.

Temuan ini sebagaimana diungkapkan Ane Permatasari dalam Ujian Tertutup Disertasi yang diadakan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik pada Jumat, (14/9) di Ruang Study Hall Pascasarjana Lt. 1, Gedung Kasman Singodimedjo, Kampus Terpadu UMY. Disertasinya yang berjudul “Pengaruh Implementasi Affirmative Action Kuota 30% Perempuan Oleh Partai Politik Terhadap Keterpilihan Caleg Perempuan Di DPRD DIY Pada Pemilu 2014”dipaparkan didepan tim penguji.

Ane memaparkan teori bahwa quota size akan memberikan peluang lebih besar terhadap keterpilihan caleg perempuan seperti yang dikatakan Drude Dahlerup dan Leslie A. Schwindt-Bayer, dalam kasus DPRD DIY ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Hal ini terlihat dari fakta bahwa lebih dari 40% angka pencalonan caleg perempuan, tingkat keterpilihannya hanya pada angka 10,9%.

Ane menambahkan bahwa ketika seorang caleg perempuan tidak ditempatkan di dapil sesuai domisilinya dan tidak ditaruh pada nomor urut kecil, ternyata dia tetap bisa terpilih. Artinya, teori Leslie A. Schwindt-Bayer Johnson tentang pentingnya penempatan daerah pemilihan dan nomor urut terbukti tidak sepenuhnya benar pada kasus DIY. Adanya implementasi affirmative action kuota 30% perempuan oleh partai politik peserta pemilu tahun 2014 di DPRD DIY tidak secara signifikan mempengaruhi keterpilihan caleg perempuan di DPRD DIY pada pemilu tersebut.

Hadir sebagai Tim Penguji yaitu Dr. Hasse J., M.A. (Ketua Sidang), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. (Promotor/Penguji I), Dr. Ulung Pribadi, M.Si (Co-Promotor/Penguji II), Dr. Titin Purwaningsih, S.IP., M.Si. (Penguji III), Dr. Nur Aziza, M.Si. (Penguji IV), dan Dr. Dyah Mutiarin, M.A (Penguji V).