Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Pengurus Ranting Muhammadiyah Tamantirto menyelenggarakan ibadah sholat Idul Adha di pelataran Lapangan Bintang Kampus Terpadu UMY, Minggu (11/8) pagi. Pada sholat Idul Adha kali ini diimami oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UMY Dr. H. Sukamta, M.T., IPM, yang juga sekaligus bertindak sebagai khatib.

Pada khutbah Idul Adha 1440 Hijriyah, Sukamta mengingatkan para jamaah tentang kisah Nabi Adam AS dan Hawa yang bertemu pertama kali di Arafah setelah diusir dari Surga karena melanggar perintah Allah SWT. “Tepat hari ini 10 Dzulhijah kita kaum muslimin merayakan Idul Adha, di hari sebelumnya kita menjalankan puasa Arafah yang memiliki ganjaran akan diampuni dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun ke depan. Allah SWT memberikan pelajaran yang banyak untuk kita dengan peristiwa Arafah tentang sejarah Nabi Adam AS dan Hawa. Arafah merupakan tempat pertemuan kedua manusia pertama di bumi, setelah diusir dari Surga akibat melanggar larangan yang diperintahkan Allah SWT.”

Pelajaran terbaik yang bisa dipetik dari peristiwa terusirnya Adam dan Hawa adalah kepatuhan terhadap perintah Allah SWT. “Allah SWT telah memberikan kenikmatan melimpah kepada Adam dan Hawa di satu tempat terindah yaitu Surga. Hanya satu larangan yaitu memakan atau mendekati buah khuldi, tapi mereka tergoda oleh Iblis kemudian Allah murka. Maka dari itulah kita harus selalu mematuhi segala perintah-Nya, karena barang siapa menjalankan perintah Allah maka akan diberikan karunia kenikmatan tiada tara,” sambung Sukamta di depan para jamaah seusai menjalankan ibadah sholat Idul Adha berjamaah.

Sebagai seorang manusia, kita harus berani memerangi hawa nafsu, karena itu adalah jihad yang paling sulit untuk dilakukan. “Besi sangat kokoh bisa dikalahkan oleh api yang membara, api dapat dipadamkan oleh air, air bisa memporak-porandakan apa saja tapi kalah oleh matahari yang menyerapnya di awan, awan bisa menghalangi pesawat terbang tapi terombang-ambing oleh angin, angin kalah dengan gunung yang berdiri kokoh, tapi gunung kalah oleh tangan manusia yang mampu membuat terowongan serta jalan di sana. Sedangkan manusia kalah dengan hawa nafsunya sendiri yang bisa menghancurkannya kapan saja,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik UMY itu.

Ketauladanan berikutnya yang bisa dipelajari pada momen Idul Adha adalah tentang kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS tentang ketaatan dan kesabaran, yang kemudian muncullah perintah untuk menyembelih hewan Qurban seperti yang disampaikan Sukamta dalam khutbahnya. “Ibrahim bercerita dengan jelas di depan anaknya mengenai mimpi yang baru saja ia alami yaitu perintah Allah SWT untuk menyembelih Ismail. Dengan penuh ketaatan dan kesabaran keduanya menunaikan wahyu tersebut, sebelum kemudian Allah SWT mengganti raga Ismail dengan seekor domba.”

Enam hari lagi kita akan memperingati hari Kemerdekaan RI yang ke-74, Sukamta berpesan pada penutup khutbahnya agar umat Muslim tetap menjaga kerukunan dan mengakui dasar Pancasila. “eperti yang kita tahu kemerdekaan RI diraih karena tak lepas dari pengaruh para ulama terdahulu, jadi kita harus menjaga kerukunan bangsa dan mengakui dasar ideologi Pancasila. Jadi mari kita berikan yang terbaik bagi umat, bangsa dan kemanusiaan,” tutup Sukamta. (Hbb)