Bagi warga Muhammadiyah pastilah sudah tidak asing lagi dengan Rumah Sakit Pembinaan Kesejahteraan Umat (RS PKU). RS PKU Muhammadiyah awalnya didirikan berupa klinik sederhana dengan nama PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dengan maksud menyediakan pelayanan kesehatan bagi kaum dhuafa. Di balik berdirinya PKU Muhammadiyah ada salah satu tokoh yang menjadi pencetus berdirinya RS tersebut. KH Sudja’ satu diantara empat tokoh yang menjadi pejuang Muhammadiyah generasi awal yang lahir dari trah KH. Hasyim.

Keempat tokoh tersebut yakni H. Zaini, Ki Bagus Hadikusumo, KH. Fakhruddin, dan KH. Sudja’ menjadi generasi pertama yang ikut berjuang bersama KH. Ahmad Dahlan. Dalam seminar Kemuhammadiyahan dan Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Doktor Politik Islam – Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bertempat di Gedung Pascasarjana lantai 4 (4/4), turut mengundang Dr. Mukti Fajar ND, SH., M.Hum salah satu dosen Fakultas Hukum UMY keturunan dari KH. Sudja.

Dalam kesempatannya, Mukti Fajar menceritakan tentang KH. Sudja’ yang menjadi pencetus pertama berdirinya RS PKU Muhammadiyah. “Tidak banyak catatan tertulis yang dibuat oleh KH. Sudja’. Awal mula tercetusnya RS PKU Muhammadiyah seperti yang kita kenal saat ini, bermula dari rapat yang digelar oleh KH. Ahmad Dahlan. Beliau menanyakan apakah ada bangunan yang perlu untuk didirikan. Kemudian, KH. Sudja’ mengusulkan membangun sebuah RS untuk warga Muhammadiyah. Namun, hal tersebut justru malah ditertawakan oleh para hadirin yang hadir saat itu,” ujar Mukti.

“Rapat yang dipimpin oleh KH. Ahmad Dahlan tersebut adalah rapat pimpinan pengurus Muhammadiyah, yang kemudian melahirkan tiga gagasan penting, yaitu RS, Rumah Miskin, dan Panti Asuhan. KH. Sudja’ memang bukan sosok orator yang tampil di muka umum, namun KH. Sudja’ lebih suka berada di belakang layar menjadi konseptor. Beliau memiliki mimpi yang tinggi. Impian tentang mendirikan RS tersebut berawal dari ajaran KH. Ahmad Dahlan dan teologi Al-Maun,” tambah Mukti.

Hal senada juga dijelaskan oleh Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, S.U dalam materi yang disampaikannya terkait spirit gerakan Muhammadiyah. “Muhammadiyah menempatkan kegiatannya sebagai fondasi infrastruktur kebangsaan. Langkah yang dilakukan ialah penyadaran perubahan nasib, hak sehat, hak cerdas, hak memperoleh pendidikan, hak berdialog langsung dengan kitab suci. Muhammadiyah sejak awal abad 20 menggerakkan umat untuk hidup sehat, cerdas, untuk menentukan nasibnya sendiri. Kuncinya ialah kolaborasi dengan berbagai pihak. KH. Sudja’ yang berada di belakang layar lahirnya RS PKU Muhammadiyah, seluruhnya dilakukan bagi pemuliaan martabat manusia. Walaupun mimpinya tersebut ditertawakan oleh banyak orang karena dianggap tidak masuk akal, namun pada 1938, beliau berhasil menginisiasi pendirian PKU hingga sekarang Muhammadiyah memiliki 105 rumah sakit,” terangnya.

“Surat Al-Maún memberi inspirasi semua aksi KH Ahmad Dahlan ketika mendirikan Muhammadiyah. Menurut Al-Maroghi, Al-Maún berarti segala hal terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, sandang, dan papan. Perintah Allah dalam surat Al-Maún mestinya mendorong orang-orang untuk mengembangkan sistem sosial-ekonomi, mengantisipasi ketimpangan kemampuan produksi dan pemanfaatan peluang berusaha. Dengan melalui cara-cara sistematis tersebut dampak kemiskinan dapat dikurangi,” tutup Abdul Munir. (CDL)