Pusat pelatihan bahasa atau Language Training Center (LTC) yang ada di Perguruan Tinggi, perlu menciptakan program-program yang efektif dan efisien. Apalagi dengan adanya Peraturan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Penmenristekdikti) tentang izin membuka Perguruan Tinggi Asing (PTA) yang akan diizinkan mulai beroperasi pada tahun 2019. Keberadaan LTC di PTN ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) khususnya tentu sangat berperan penting untuk memberikan pembelajaran bahasa asing yang lebih efektif dan efisien.

Hal tersebut sebagaimana diutarakan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, dalam acara Pertemuan Pusat Pelatihan Bahasa atau LTC Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se Indonesia, di Gedung K.H. Mas Mansyur UMY, Kamis (1/2). Dalam kegiatan yang rencananya akan berlangsung hingga Sabtu (3/2) ini, Gunawan menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa asing yang dilakukan di setiap jenjang pendidikan saat ini, belum memberikan pengaruh pada aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh peserta didik.

“Pembelajaran bahasa asing memang merupakan program pembelajaran yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Walaupun hasilnya secara akademik cukup bagus di setiap jenjang pendidikan. Akan tetapi, masih banyak yang tidak pernah aktif berkomunikasi dengan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Hal ini dikarenakan tidak adanya keberanian untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Maka dari itu, sudah menjadi tugas setiap Pusat Pelatihan Bahasa di Perguruan Tinggi untuk membuat program-program yang efektif dan efisien,” jelas Gunawan.

Gunawan juga mengatakan bahwa LTC perlu memberikan paket jenius, tidak hanya untuk mahasiswa S1, S2 dan seterusnya. Namun diperuntukan pula untuk rektor-rektor di PT. “Dengan demikian, hasilnya tidak hanya nilai akademik yang baik namun mahasiswa dan dosen memiliki keberanian untuk berkomunikasi dengan baik. Sehingga, baik mahasiswa maupun dosen bisa tampil di event-event internasional,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut Noor Qomaria Agustina, S.Pd.,M.Hum Kepala LTC UMY mengatakan tantangan LTC saat ini adalah bagaimana caranya agar mahasiswa bisa memiliki skill bahasa asing ketika lulus dari perguruan tinggi. Sehingga ketika memasuki dunia kerja mahasiswa memiliki daya saing. Namun, hal tersebut tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat dan memerlukan ketekunan serta pelayanan yang baik.

Kegiatan pertemuan LTC Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia tersebut diikuti oleh 11 PTM dari 17 PTM yang diundang. Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari inisiasi pembentukan Asoisiasi Institusi Layanan Bahasa Perguruan Tinggi untuk negeri maupun swasta di bulan desember 2017. Selain terbentuknya jaringan, kegiatan tersebut juga untuk saling tukar pengalaman dan selanjutnya terbentuk standarisasi pelayanan LTC, sehingga nantinya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik untuk mahasiswa maupun civitas akademika.

“Kami telah menerapkan beberapa program seperti TOEFL bekerja sama dengan IEF, IELTS bekerja sama dengan British Consult. Serta untuk dosen yang akan studi lanjut kami menyiapkan program TOEFL dan IELTS preparation bekerjasama dengan UTS Insearch Gramedia secara intensif selama 3 minggu hingga 2 bulan. Program ini juga untuk meningkatkan kompetisi dosen dalam melamar beasiswa dan letter acceptment dari universitas luar negeri,” tutupnya. (zaki)