Ade Yamin memaparkan penelitian disertasinya dihadapan tim penguji

Ber-Islam bukan hanya sekedar menjalankan praktek beragama, namun lebih jauh dari itu Islam bagi Dani Muslim merupakan sumber kebesaran diri dan kebanggaan yang direbut dengan sangat banyak pengorbanan. Hal ini menjadi penyemangat Dani Muslim dalam mengidentifikasi diri sebagai muslim dengan tetap mempertahankan tradisi Papua   walaupun kemungkinan terdapat kontradiksi dengan ajaran pokok islam.

Sebagaimana disampaikan oleh Ade Yamin dalam Seminar Hasil Penelitian Disertasi yang diadakan Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, Sabtu (26/1) di Ruang Sidang Prodi Politik Islam Lt. 1, Gedung Pascasarjana Kampus Terpadu UMY. Ade Yamin memaparkan penelitiannya yang berjudul “Revivalisme Muslim Minoritas “Studi tentang Pengambilan Keputusan Menjadi Muslim Orang Dani di Lembah Baliem, Papua”  dihadapan tim penguji.

Ade Yamin menjelaskan Islam diterima dalam komunitas Dani Muslim pada awalnya tidaklah melalui jalur formal dan melibatkan struktur kekuasaan dalam komunitas. Proses hadirnya Islam pada komunitas Dani ternyata memiliki alur, aktor dan model penerimaan yang tidak sama dengan proses penerimaan yang terjadi di daerah lain di Indonesia. Jika jalur perkembangan Islam di banyak tempat di Indonesia mengikuti pola Top Down, dan selalu melibatkan pendakwah agama yang mumpuni, maka maka pada komunitas Dani Muslim justru terjadi sebaliknya, proses penerimaan Bottom Up dan tidak melibatkan pendakwah agama yang mumpuni.

Dia menambahkan Islam diterima dan dipraktekan dalam kehidupan sehari hari tidak terlepas dari konsep manfaat dan kegunaan agama itu sendiri dalam komunitas. Dalam konteks itu, islam dalam komunitas dipraktekan sejalan dengan manfaat yang diperoleh dari aktivitas tersebut. Sekelompok kecil anggota komunitas sangat memahami apa yang sebaiknya dan apa yang tidak boleh dikerjakan dalam beragama, tetapi kompromi dan negosiasi harus terus terjadi untuk menjembatani konsep dan pemahaman yang masih sangat kuat berdasar pada adat dan kebiasaan secara turun-temurun yang dipedomani oleh sebagian besar anggota komunitas.

Lebih lanjut, Ade Yamin melihat model penerimaan dan praktek keberagamaan komunitas Dani muslim saat ini memantik reaksi dan respons beragam dari berbagai pihak, baik yang simpati, terlebih yang antipati. Pihak yang bersimpati pada gilirannya menempatkan posisi komunitas Dani Muslim pada posisi kelompok yang harus terus dibantu dan diajari dalam segala hal. Akan tetapi, kebanyakan bantuan dan kepedulian itu hanya berbasis pada kebutuhan dan keinginan pihak yang membantu, bukan pada kebutuhan dasar masyarakat. Sementara dalam perspektif antipati, masuknya komunitas Dani ke dalam agama Islam dianggap sebagai bentuk ancaman terhadap eksistensi struktural maupun kultural komunitas yang terlanjur merasa diri mayoritas dalam agama tertentu, sehingga penentangan-penentangan terhadap komunitas ini terus terjadi baik langsung maupun tidak langsung hingga saat ini.

Hadir sebagai tim penguji di antaranya, Prof. Dr. Irwan Abdullah, Dr. Hasse J., M.A., Dr. Zuly Qodir, M.Ag., dan Dr. Mega Hidayati, M.A. Seminar bersifat terbuka dan disaksikan mahasiswa politik islam-ilmu politik.

Penguji memberikan pertanyaan, saran maupun kritik terhadap materi teknis, metodologi dan substansi dari hasil penelitian disertasi yang telah dipaparkan. Ade Yamin diminta untuk melakukan revisi terhadap hasil penelitian disertasinya