Takdir Ali Mukti, Mahasiswa Politik Islam, melaksanakan Ujian Tertutup Disertasi yang diselenggarakan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik pada Senin, (15/7) di Study Hall Pascasarjana Kampus Terpadu UMY. Pada kesempatan ini, Takdir Ali Mukti memaparkan disertasinya berjudul “Sengketa Politik-Paradiplomasi antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Republik Indonesia dalam Pembentukan Lembaga Wali Nanggroe” dihadapan tim penguji.

Takdir mengungkapkan bahwa pemerintahan Aceh mempertahankan keputusan politik-paradiplomasinya yang bertentangan dengan pemerintah Indonesia dalam pembentukan lembaga wali nanggroe disebabkan oleh 2 faktor.

Pertama, Ideologi GAM sebagai preferensi politik para pemimpin pemerintahan Aceh baik Eksekutif mupun Parlemen, berpengaruh positif terhadap upaya mempertahankan keputusan politik-paradiplomasi yang bertentangan dengan pemerintah pusat sebagai cara untuk merealisasikan poin-poin dalam MOU Helsinki sesuai dengan cita-cita perjuangan GAM. Rasionalitas politik para pemimpin Aceh dalam membuat keputusan politik sangat dipengaruhi oleh preferensi ideologi politik GAM yakni Tiroisme yang telah tertanam dalam jiwa mereka selama bertahun-tahun sebelumnya.

Kedua, Norma Paradiplomasi (Paradiplomasi Norm) berpengaruh positif terhadap keputusan mempertahankan politik-paradiplomasi pemerintahan Aceh. Paradiplomasi sebagai norma internasional sangat berperan dalam pembentukan kepentingan ‘nasional’ (pemerintahan) Aceh. Rasionalitas politik para pemimpin pemerintahan Aceh dengan latar belakang sejarah dan pengalaman para tokoh-tokoh GAM di luar negeri, menemukan kombinasi ideal antara semangat ‘Jihad’ melalui ‘diplomasi’ dengan ‘norma paradiplomasi’ yang biasa (custom) dilakukan oleh sebuah ‘substate’/pemerintah regional atau negara bagian. Kewenangan urusan luar negeri itu harus diletakkan di tangan seorang Wali Nanggroe, karena posisinya yang lebih tinggi dari Gubernur dan Parlemen Aceh.

Dia menambahkan, dalam konteks pasca perdamaian , (para)-diplomasi yang dilakukan oleh para pimpinan GAM adalah suatu bagian dari ‘Jihad’, dan bukan sekedar usaha untuk mempengaruhi bangsa lainnya (influence).

Hadir sebagai Tim Penguji, antara lain Dr. Hasse J, M.A. (Ketua Sidang), Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si., Dr. Surwandono, M.Si., Dr. Ulung Pribadi, M.Si., Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A., Dr. Dafri Agussalim, M.A., dan Prof. Dr. Irwan Abdullah.

Setelah mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan dan keberatan Tim Penguji dalam Ujian Tertutup Disertasi, Tim Penguji memutuskan bahwa Takdir Ali Mukti dinyatakan LAYAK maju ke Ujian Promosi Doktor (Terbuka) dengan perbaikan. Takdir Ali Mukti diminta menyempurnakan disertasi sesuai saran, masukan, dan arahan dari Tim Penguji. (dep)