Ujian Promosi Doktor “Malik Ibrahim”

April 7, 2018 oleh : superadmin-pa

Pembinaan terhadap Peradilan Agama (PA) mengalami perubahan dari pembinaan “dua atap”  (pembinaan ganda) pada masa sebelum era Reformasi menjadi pembinaan “satu atap” (one roof system)  pada masa Reformasi. Hal ini disebabkan dari upaya aparat PA untuk melakukan perubahan  dalam pembinaan, dengan harapan  PA mengalami kemajuan dibanding dengan era sebelumnya, Disamping itu, arus reformasi peradilan pada masa awal Reformasi menyerukan adanya independensi lembaga peradilan.

Temuan tersebut sebagaimana disampaikan oleh Malik Ibrahim dalam Ujian Promosi Doktor    yang diselenggarakan Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik pada Sabtu, (7/4) di Ruang Amphiteater Pascasarjana Lantai 4 Gedung Kasman Singodimedjo, Kampus Terpadu UMY. Dalam kesempatan ini, Malik Ibrahim memaparkan temuan-temuan dalam disertasinya yang berjudul “Dinamika Pembinaan Peradilan Di Indonesia Studi Terhadap Peradilan Agama Pada Era Reformasi” dihadapan penguji.

Malik menjelaskan sebelum era Reformasi pembinaan terhadap PA dilakukan oleh dua lembaga, yaitu Kementerian Agama (Kemenag)   dan Mahkamah Agung (MA), sedangkan pada era  Reformasi pembinaan hanya dilakukan oleh Mahkamah Agung saja. Ditemukan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perubahan tersebut. Faktor internal diantaranya adalah: (a) Upaya dari aparat PA sendiri yang berupaya untuk melakukan perubahan demi untuk kemajuan dan kemandirian PA.  (b) Dengan berubah menjadi “satu atap” maka pengelolaan pengadilan lebih efisien. (c) Memudahkan komunikasi diantara aparat PA. (d) Terbukanya peluang bagi aparat PA untuk bersaing dengan aparat dari lingkungan  peradilan lainnya  di bawah MA untuk menduduki  suatu jabatan tertentu. Sedangkan faktor eksternal diantaranya adalah  diberlakukannya beberapa peraturan perundangan yang menggantikan peraturan perundangan  yang ada sebelumnya.

Malik menambahkan bila dilihat secara menyeluruh dan ideal,  perubahan pembinaan tersebut  masih menyisakan  problem  yang belum  terselesaikan di lingkungan PA sampai saat ini, yaitu aspek anggaran dan rekruitmen pegawai, sehingga  kemandirian yang terjadi di lingkungan PA pada era Reformasi belum sepenuhnya mandiri secara  totalitas, karena  terkait kekuasaan di luar PA ataupun MA, yaitu kekuasan eksekutif dan legislatif.

Hadir sebagai Tim Penguji diantaranya, Sri Atmaja P. Rosyidi, ST., M.Sc.Eng., Ph.D., P.Eng (Ketua Sidang), Dr. Hasse J, M.A (Sekretaris Sidang), Prof. Dr. Tulus Warsito, M.Si (Promotor/Penguji I), Dr. Sidik Jatmika, M.Si (Co-Promotor I/Penguji II), Dr. Ulung Pribadi, M.Si (Co-Promotor II/Penguji III), Prof. Dr. Kamsi, M.A (Penguji IV), Dr. Trisno Raharjo, S.H., M.Hum (Penguji V) dan Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc (Penguji VI) serta disaksikan tamu undangan dan  mahasiswa UMY.

Setelah mempertimbangkan jawaban atas pertanyaan dan keberatan Tim Penguji dalam Ujian Promosi Doktor, Malik Ibrahim dinyatakan lulus dan diberi gelar Doktor Politik Islam-Ilmu Politik dengan segala hak dan kewajiban yang melekat atas gelar tersebut. Malik Ibrahim menjadi doktor ke-11 yang diluluskan oleh Program Doktor Politik Islam-Ilmu Politik, Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.