Sejak tahun 1912 Muhammadiyah sudah hadir untuk bangsa. Dalam perjalananya hingga saat ini Muhammadiyah tetap teguh pada pendirian hingga menjadi Organisasi Masyarakat yang besar di Indonesia, hingga saat ini telah banyak tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia yang lahir dari rahim Muhammadiyah. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sebagai salah satu kampus unggulan Muhammadiyah, tidak ingin begitu saja melupakan sejarah pahlawan muhammadiyah. Justru tokoh-tokoh tersebut harus diperkenalkan kepada kader-kader Muhammadiyah salh satunya mahasiswa UMY.

“Acara ini merupakan salah satu upaya penyadaran sejarah bagi generasi muda persyarikatan dan bangsa dalam menatap masa depan peradaban bangsa dengan tidak melupakan masa lalu. Sejarah tidak bisa membungkam gelora semangat kader Muhammadiyah dalam perjuanganya pada alur sejarah Indonesia,” ungkap Dr. Ir. Gunawan Budiyanto Rektor UMY pada acara Seminar Serial Tokoh Muhammadiyah untuk Bangsa yang diselenggarakan oleh Program Doktor Politik Islam -Ilmu Politik,  Selasa (26/2) di Ruang Amphiteater Pascasarjana  Kampus Terpadu UMY.

Dikatakan oleh Gunawan peran tokoh Muhammadiyah memang jarang terangkat jasanya ke ruang permukaan publik, oleh karena itu melalui Program Doktor Politik Islam dan Ilmu Politik UMY mengadakan serial Tokoh Muhammadiyah ini yang rencananya akan diadakan 2 bulan sekali. Pada seri yang pertama UMY mengenalkan tokoh KH. Djarnawi dalam tema “Muhammadiyah, Islam dan Kebangsaan”.

“Peran tokoh sentral Muhammadiyah dalam perjuangan konteks kebangsaan diimbangi dengan dialog lintas tokoh bangsa. Jadi rantai ini jangan sampai terputus, rantai dialog fakta sejarah dan nalar tokoh Muhammadiyah harus terus menjalar di dalam diri kader-kader Muhammadiyah hingga tidak bisa terbendung,” ungkap Gunawan lagi.

Dalam serial pertama ini, UMY menghadirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terhubung langsung dengan Djarnawi Hadikusmo di masa lalu. Seperti Ahmad Syafi’I Ma’arif mantan murid asuh Djarnawi Hadikusmo di Mu’alimin, juga sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1998-2005. Kemudian Chamamah Suratno Ketua ‘Aisyiyah periode 2005-2010 dan Busyro Muqoddas yang juga mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Sebagai murid beliau ketika belajar di Mu’alimin dulu, Syafi’i Ma’arif mengatakan sosok Djarnawi yang dikenal sebagai sosok guru yang cakap dan cerdas, juga politikus yang kompeten yang patut dikenalkan kiprah dan sejarahnya terhadap kader Muhammadiyah. “Beliau merupakan sosok yang dekat dengan semua kalangan, sosok nasionalis yang membuat ia sudah merdeka bahkan sejak dalam fikiran. Beliau juga dalam kiprahnya pernah menjabat sebagai ketua umum di partai Muslimin Indonesia,” jelasnya.

Menyambung Kembali apa yang disampaikan Syafi’I Ma’arif, Gunawan berharap dengan dikenalkanya perjuangan tokoh-tokoh muhammadiyah, para kader muhammadiyah yang terdiri dari mahasiswa hingga dosen di UMY dapat memperkokoh demokrasi dan memperbaiki bangsa ini di masa depan. “Saya percaya Muhammadiyah menjadi harapan untuk mengembalikan struktur negara dengan pilar demokrasinya yang jelas,” pungkasnya.