Dr. Zuly Qodir: Dosen & Pendidik Harus Tanggap dan Kritis Informasi Media Sosial

8 Januari 2020, oleh: wahono
Dr. Zuly Qodir saat memberikan materi di hadapan dosen muda di lingkungan Universitas Islam Indonesia
Kondisi sosial keagamaan yang diisi oleh hoax dalam media sosial dan ujaran-ujaran kebencian dapat dilakukan karena interest politik kelompok tertentu. Sebagai dosen dan pendidik maka para dosen dan sekaligus pendidik kadang merangkap sebagai guru ngaji alias mubaligh harus bersikap kritis atas kondisi yang dihadapi.
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Program Studi Doktor Politik Islam-Ilmu Politik UMY, Dr. Zuly Qodir, M.Ag dalam Studi Intensif Al-Qur’an Hadits dan Studi Intensif Dakwah Islam (SIAH-SIDI), Rabu (8/1) di Auditorium Universitas Islam Indonesia. Kegiatan yang bertema “Peran Dakwah Dalam Mengatasi Konflik Sosial” ini diikuti dosen muda dilingkungan Universitas Islam Indonesia.
Dr. Zuly Qodir mengungkapkan dosen dan mubaligh tidak berperan sebagai penyebar hoax fitnah dan berita bohong yang dapat memecah belah umat islam sendiri. Hadirnya berita bohong harus imbangi dengan pemberian berita dan informasi yang akurat serta tidak tendensius. Jika hal itu diteruskan maka dosen sebagai pendidik dan mubaligh telah berperan negatif dalam membangun bangsa dan mencerdaskan kehidupan dimasa depan.
Dia berpesan dosen dan mubaligh harus melakukan klarifikasi atas informasi yg didapatkan, tidak asal disebarkan sekalipun dari orang yg ditokohkan dan berpendidikan tinggi.