Muhammadiyah Akan Selalu Ambil Bagian Demi Kemajuan Bangsa

20 November 2019, oleh: wahono

Muhammadiyah telah menginjak usia yang ke-107 tahun, komitmennya dalam membangun bangsa sudah tidak diragukan lagi. Ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) telah tersebar dari ujung timur hingga barat Indonesia. Untuk itu, pada tahun ini Muhammdiyah mengambil tema “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, M.SI menegaskan bahwa Muhammadiyah akan selalu mengambil bagian dalam kemajuan pendidikan guna mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Muhammadiyah lewat Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Dahlan serta generasi awal pada 107 tahun yang lalu telah menorehkan tinta sejarah keumatan dan kebangsaan, salah satunya dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa bagi Muhammadiyah dan generasi awal gerakan ini memiliki fondasi pada nilai-nilai Islam dan tradisi Iqra’ yang menjadi wahyu pertama dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW,” ujarnya saat menyampaikan pidato Milad Muhammadiyah ke-107, Senin (19/11) di Gedung Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Haedar juga menenerangkan bahwa selain pentingnya pendidikan formal, pendidikan karakter juga menjadi satu hal yang sangat diperhatikan bagi masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan bahwa cerdas memiliki makna tajam pikiran dan akal budi manusia. Usaha dalam mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hanya mempertajam akal pikiran dan akal budi manusia, tetapi juga kebudayaan dan lingkungan serta sistem dimana manusia itu hidup. Dalam hal ini, seorang manusia tidak hanya dapat membaca suatu hal menggunakan akal pikiran. Tetapi juga dengan hati serta budi manusia atau Tafakur, Tadabur dan Tasyakur.
“Tradisi mencerdaskan dalam Islam juga memiliki fondasi pada misi kerisalahan nabi, membangun akal budi berbasis pada akhlak yang mulia. Dengan membaca dan akal budi akhlak mulia, Islam mampu menjadi peradaban yang maju di seluruh muka bumi. Dari situ Islam dapat menyinari zaman dan memberi warna pada peradaban baru. Maka dari itu Kyai Dahlan mengambil tradisi itu dan terus melakukannya bagi kemajuan bangsa ini melalui Muhammadiyah,” imbuhnya.
Waktu terus berlalu dan Muhammadiyah tetap selalu berkiprah untuk kemajuan umat, bangsa dan semesta. Usaha mencerdaskan tidak kenal berhenti, ribuan sekolah, 20 ribu Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA), 166 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dan seluruh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) menjadi bagian dari gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa.
“Kita berharap bahwa setelah perjalanan 107 tahun ini, Muhammadiyah akan tetap bersinar menyinari zaman dan semesta membawa suara mencerdaskan kehidupan umat, bangsa dan kemanusiaan secara menyeluruh,” pungkasnya.
Sementara itu pada kesempatan yang sama Gubernur Dearah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan bahwa posisi Muhammadiyah selalu berada di jalan tengah serta aktif memberikan solusi bagi bangsa ini. “Muhammadiyah selalu hadir mendinginkan suasana dengan memberikan solusi penuh hikmah kebijaksanaan. Melalui tafsir ajaran Islam untuk bersatu merajut ukwah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Sri Sultan menyebutkan bahwa Kyai Ahmad Dahlan telah mampu berfikir jauh kedepan, sehingga apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah selalu dapat diterima pada setiap zaman. Ia juga mengajak para kader untuk merenungkan nilai-nilai yang telah diusung oleh Ahmad Dahlan agar senantiasa menjalankan cita-cita besar pendiri Muhammadiyah tersebut. Pesan dan nilai-nilai ini juga tidak hanya menjadi tuntutan kader persyarikatan. Melainkan menjadi kewajiban yang harus dituntaskan oleh seluruh bangsa.
“Sebagai gerakan reformis dengan ungkapan yang penuh kesahajaan yang tulus, jadilah santri yang kemajuan. Kata-kata mutiara itu seakan mengingatkan setiap insan Muhammadiyah agar melanjutkan dan menuntaskan gerakan pembaharuan seperti ketika dilahirkannya. Pesan dan gerakan reformasi itu terbukti tidak hanya terbatas bagi warga Muhammadiyah saja. Tetapi kini bahkan menjadi tuntutan seluruh bangsa,” pungkasnya. (ak)