Tangkal Radikalisme di Sekolah dengan Pembinaan OSIS

Februari 4, 2020 oleh : superadmin-pa

Radikalisme menjadi isu yang terus berkembang di masyarakat Indonesia. Berbagai tindakan seperti ujaran kebencian, jihad teroris, dan paham-paham radikal telah menjamur di masyarakat. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan dan segera dicarikan solusi untuk mengatasinya. Elemen masyarakat dan institusi pemerintah harus dapat bersinergi dan berkolaborasi menangkal radikalisme, tak terkecuali lembaga pendidikan yang berperan menjadi filter paham radikalisme.

Lembaga pendidikan seperti sekolah formal maupun informal sangat rentan terhadap masuknya paham radikalisme, tak terkecuali  organisasi yang ada di sekelolah yaitu Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sebagai wadah ekspresi dan interaksi antar siswa di sekolah, OSIS sangat rentan terhadap masuknya paham-paham radikal.

Penelitian Zuly Qodir (2018) berjudul “OSIS: Mendayung di Antara Dua Karang: Kebijakan Sekolah, Radikalisme dan Inklusivisme Kebangsaan” yang dimuat Convey Report  menyebutkan OSIS, utamanya melalui bidang kerohanian, kerap disusupi alumni dan kelompok radikal. Di Kota Surakarta, Kab. Sukabumi, dan Kota Padang, alumni kerap menjadi rujukan utama pengurus bidang kerohanian dalam setiap kegiatannya. Misalnya, di sebuah SMA Negeri di Surakarta, alumni yang bercorak Salafi menjadi referensi utama bagi pengurus OSIS dalam kegiatan Studi Islam Intensif (SII), yang langsung dibina oleh ustadz dari sebuah pesantren Salafi. Selain oleh Salafi, kegiatan ekstrakurikuler di SMA Negeri tersebut juga dibina oleh alumni yang tergabung dalam Jamaah Masjid sebuah kampus neg eri di Surakarta. Mereka membina dan menjadi mentor utama dalam kajian rutin hari Selasa dan Kamis.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Politik Islam-Ilmu Politik UMY, Dr. Zuly Qodir, M.Ag yang konsens terhadap isu-isu radikalisme turut memberikan perhatian serius terhadap munculnya radikalisme di sekolah. Dia menerangkan bahwa  pengurus OSIS dan para alumni dapat menjadi agen yang strategis untuk menyebarkan praktik-praktik inklusivisme, toleransi dan meneguhkan kebangsaan.

Kaprodi yang gemar bermain sepak bola ini juga melihat beragamnya para pengurus OSIS dari segi agama (multi agama) maupun segi etnis merupakan kekuatan OSIS untuk mendukung inklusivisme, toleransi dan nasionalisme. Berbeda dengan pengurus OSIS yang hanya satu agama maupun satu etnis. Untuk mendukung keterbukaan, toleransi dan nasionalisme sedikit terhambat karena minimnya pergaulan yang bervariatif dan heterogen.

Zuly Qodir melihat peranan pengawas sekolah kian menjadi penting dalam mengenali dan mendeteksi sikap radikalisme yang berkembang di sekolah.

“Tidak bersedia bertegur sapa dan bergaul dengan yang berbeda agama, aliran kegamaan, dan kepercayaan, serta menyalahkan orang yang berbeda pandangan keagamaan merupakan tanda-tanda yang perlu diantisipasi agar tidak mengarah ke perbuatan kekerasan,” ujar Zuly Qodir saat ditemui, Selasa (4/2) di Ruang Kaprodi Politik Islam.

Zuly Qodir mendorong pengawas sekolah dapat mempromosikan nilai nasionalisme dan kebangsaan kepada pengurus OSIS sekolah.

“Pengenalan dan penghayatan terhadap nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan, seperti mengikuti upacara bendera, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta menghormati guru dapat menjadi langkah preventif mencegah radikalisme,” tutup Zuly Qodir.(dep)