IMG_9996

Isu terkait keberagaman di masing-masing negara umumnya memang berbeda. Sebut saja seperti isu keberagaman yang dibahas oleh Indonesia dan Jerman. Kedua negara ini memiliki fokus yang berbeda dalam mengangkat isu keberagaman di negaranya. Namun sejak akhir abad ke 20, kesadaran dan kepedulian masyarakat terkait keberagaman juga sudah mulai meningkat, khususnya dalam hal politik dan konstruksi sosial. Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, karena pada kenyataannya isu keberagaman tersebut ikut mewarnai sebuah konstruksi sosial dan politik di masyarakat.

Hal tersebut sebagaimana disampaikan oleh Prof. Dr Christoph Behrens, selaku dosen Internasional Government Relations (IGOV) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dosen CAU Germany dalam Launching Buku Diversity Concepts-Diversity Politics yang merupakan serangkaian acara Alumni Seminar DAAD (Deutscher Akademischer Austaush Dienst) pada Rabu (23/3) bertempat di Ruang Seminar Gedung Pasca Sarjana lantai 4 kampus terpadu UMY.

Diungkapkan oleh Prof. Behrens, buku yang ditulisnya beserta dosen-dosen UMY tersebut berisi tentang keberagaman dalam dua perangkat nilai yang berbeda, dan dari dua tempat yang berbeda. “Maksud dari dua tempat yang berbeda tersebut dalam buku ini menggambarkan bagaimana perbedaan dan keberagaman yang terjadi dalam bidang politik maupun konstruksi sosial di Indonesia dan Jerman,” ungkapnya.

Perbedaan keberagaman tersebut berdampak pada konstruksi sosial, dan pemikiran sosial dalam berpolitik. Di Indonesia dan Jerman, isu terkait dengan persepsi tersebut dapat berubah-berubah, sejalan dengan perkembangan dunia yang turut mengalami perubahan setiap waktunya.

“Terdapat beberapa perbedaan keberagaman di Indonesia dan Jerman, di Indonesia isu perbedaan dan keberagaman saat ini masih dalam tahapan terkait pemikiran tradisional, seperti agama, etnis, suku, dan ras, yang saat ini masih menjadi isu dan perdebatan di masyarakat. Namun sebaliknya di Jerman, isu keberagaman dari perspektif pemikiran tradisional di Jerman sudah cukup lama dibahas, saat ini isu keberagaman yang cukup dibahas di Jerman lebih kepada isu-isu gender, gaya hidup, dan sosial,” tambah Prof. Behrens.

Terpelas dari pembahasan terkait buku Diversity Concepts-Diversity Politics, Dr. Dyah Mutiarin, MSi selaku ketua acara Alumni Seminar DAAD mengungkapkan, terdapat beberapa serangkaian acara dalam Alumni Seminar DAAD yang telah diselenggarakan sejak tanggal 20 hingga 23 Maret 2016. “Terdapat berbagai serangkaian acara yang dilaksanakan dalam acara Alumni DAAD ini, diantaranya yaitu Seminar, Workshop, dan juga Launching Buku Diversity Concepts-Diversity Politics,” ungkapnya

Kembali ditambahkan oleh Dr. Dyah, Alumni Seminar DAAD kali ini lebih mengangkat isu Gender, terutama dalam hal Kepemimpinan Wanita. Karena menurutnya, pada dasarnya wanita juga memiliki kapasitas dan kompetensi yang sama dengan yang dimiliki oleh laki-laki, namun di Indonesia sendiri hal tersebut masih kerap dipermasalahkan. “Masih minimnya pemimpin wanita di Indonesia disebabkan oleh faktor kultural, dan struktural, dimana wanita masih banyak yang menarik diri dalam partisipasi menjadi seorang pemimpin, dan banyaknya anggapan negatif jika wanita menjadi pemimpin,” tambahnya.

Tujuan diselenggarakan Seminar Alumni DAAD tersebut yaitu untuk melihat solusi yang tepat untuk membantu para wanita agar dapat memperoleh hak yang sama sesuai dengan hak para laki-laki, yaitu dengan pembelajaran, seperti pelatihan kepemimpinan bagi wanita, seminar, workshop dan lain-lain. “Peserta Seminar Alumni DAAD kali ini cukup tertarik dengan membahas isu gender di Indonesia dan juga di Negara Jerman,” tutupnya.