IMG20150307101742_1

Permasalahan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia sangat kompleks, baik itu masalah ekonomi, politik, maupun sosial. Namun, saat ini Indonesia terlalu fokus pada masalah politik. Sementara dua masalah krusial lainnya yakni ekonomi dan sosial, masih minim perhatian bahkan cenderung terabaikan. Akibatnya, bangsa Indonesia ini masih belum mampu menjadi negara yang benar-benar maju. Karena itu, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti Muhammadiyah harus tetap melihat tantangan bangsa ini ke depannya, khususnya dalam masalah ekonomi dan sosial.

Demikian disampaikan Wakil Presiden Republik Indonesia, H.M. Jusuf Kalla, saat menjadi Keynote Speech dalam pembukaan Seminar Nasional Pra Muktamar Muhammadiyah ke-34. Muktamar Muhammadiyah ke-34 ini akan diselenggarakan di kampung halaman Jusuf Kalla, yakni Makassar pada 3 hingga 7 Agustus 2015. Acara seminar Pra Muktamar yang diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bertempat di Ruang Mini Teater Gedung Pascasarjana didahului dengan acara Peresmian Gedung Pascasarjana-Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY yang diresmikan langsung oleh beliau pada Sabtu (7/3) pagi.

Menurut Jusuf Kalla, ada sesuatu yang telah dilupakan bangsa dan masyarakat negara dan membuat kondisi negara bahkan rakyat Indonesia pun masih ketinggalan dari negara lain. Jusuf Kalla juga menyebutkan jika perbandingan antara orang miskin dan orang kaya di Indonesia saat ini pun masih belum seimbang. “Perbandingan antara orang kaya dan miskin di negeri ini adalah satu banding sembilan. Dari seratus orang hanya sepuluh orang yang sejahtera dan dikategorikan kaya. Ini bukan perbandingan yang bagus, dan membuktikan kalau ada sesuatu yang telah kita lupakan,” ungkapnya.

Karena itu, lanjut Jusuf Kalla, Muhammadiyah harus lebih memperhatikan dakwahnya dalam bidang muamalah (ekonomi dan sosial). Menurutnya hal terpenting yang harus dibahas dan diperhatikan ialah kekayaan sumber daya alam Indonesia, jumlah penduduknya yang terus meningkat, akan tetapi belum mampu menjadi negara maju. “Bangsa ini kenapa masih belum maju-maju? Salah satunya karena masyarakat kita masih menjadi masyarakat konsumen, bukan produsen. Masalah ekonomi belum diperhatikan dengan baik, padahal agama Islam yang dibawa ke negeri ini lewat jalur perdagangan. Karena semua pendakwahnya juga menjadi pedagang. Bahkan KH Amad Dahlan yang mendirikan organisasi Muhammadiyah ini juga dikenal sebagai pedagang. Ini yang seharusnya menjadi introspeksi bersama. Inilah juga yang sebenarnya menjadi tantangan kita ke depan,” paparnya.

Untuk itu, keliru menurut Jusuf Kalla jika masih ada yang beranggapan bahwa menjadi pedagang atau bergerak di bidang ekonomi itu masih menjadi hal yang tabu. Bahkan Jusuf kalla mengatakan jika ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu membenci pasar, itu salah besar. “Karena Nabi Muhammad sendiri itu juga seorang pedagang, Siti Khadijah, istrinya juga seorang pedagang. Jadi, salah itu kalau pasar dianggap sebagai tempat yang tidak disukai oleh Nabi Muhammad,” ujarnya. Bahkan di pasarlah segala pergerakan ekonomi masyarakat dan negara bisa berjalan, bahkan bisa ikut membantu memajukan perekonomian negara dan umat.

Agar bisa berperan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia, Jusuf Kalla pun meminta Muhammadiyah untuk tetap menjaga kekuatan serta turut membantu menyelesaikan tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini. “Di negeri ini, walaupun masih punya banyak masalah seperti korupsi yang sangat membahayakan, kita juga tetap harus memperhatikan kekuatan apa yang kita miliki, dan apa saja tantangannya. Organisasi Islam juga tidak terus hanya menyampaikan materi-materi tentang akhirat, tapi juga tentang masalah dunia atau masalah muamalah (ekonomi dan sosial). Agar ada keseimbangan antara dunia dan akhirat. Karena keseimbangan ini juga dibutuhkan untuk memajukan bangsa,” ungkapnya.