Pertemuan MRT dan Dampar Raja Kalacakra

Juli 23, 2019 oleh : superadmin-pa

Pertemuan antara Prabowo dan Jokowi di stasiun MRT beberapa hari lalu terus menjadi bahasan di medsos. Ada komentar yang memuji tentang kenegarawanan dan bijaknya kedua tokoh yang bertemu tersebut. Di belakang itu juga nuncul pro dan kontra. Bahkan sampai diwarnai protes terhadap Prabowo dari para pendukungnya. Di kubu Jokowi tentu saja bersuka cita. Bahkan pertemuan tsb telah membuat jokowi dan kubuhnya penuh percaya diri. Euforia itu terlihat pada suasana yang penuh kemeriahan saat Jokowi mneyampaikan pidato “kemenangannya”. Betulkah Jokowi menangguk banyak keuntungan atau apakah Prabowo dapat dikatakan menderita kekalahan yang semakin dalam dari terselenggaranya pertemuan MRT tersebut? Masing2 pihak dan netizen tentu punya jawaban dan alasan.
Salah satu perspektif utk bisa memahami peristiwa pertemuan tersebut adalah dengn melihat peristiwa sejarah yang pernah terjadi pada kontestasi antara Arya Penangsang dengan Hadiwijaya.

Dampar Raja Kala Cakra.

Sejarah mencatat bahwa sebelum pecah peperangan, Arya Penangsang pernah mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk membunuh Hadiwijaya. Namun semua upaya pembunuhan tersebut berhasil dielakkan oleh Adipati Pajang ini.

Meresponds serangan terhadapnya, Hadiwijaya justru mengirimkan kembali orang-orang suruhan yang ditugaskan Penangsang untuk membunuh dirinya. Tidak cukup di situ, Hadiwijaya juga menghadiahi orang-orang kiriman itu dengan pakaian kebesaran prajurit Pajang.

Untuk tujuan klarifikasi dan (tentu saja) sekaligus untuk memberi tekanan pada Penangsang, Hadiwijaya secara khusus sowan ke Kanjeng Sunan Kudus. Mendapat kabar bahwa Hadiwijaya akan sowan lalu Sunan Kudus menugaskan Penangsang untuk menerima Hadiwijaya. Sunan Kudus sengaja menugasi Penangsang dengan dalih sdg bepergian. Padahal sejatinya Sunan Kudus hanya berdiam diri di bilik pribadinya.
Sebelum sembunyi di biliknya, Sunan Kudus telah memberikan ajian raja kalacakra pada dampar yang dipersiapkan sebagai tempat duduk Hadiwijaya. Namun atas saran abdi dalemnya, Hadiwijaya menolak dan malah berhasil memaksa Penangsang untuk duduk di dampar. Karena menduduki dampar yang sudah dirajah inilah semua ilmu kesaktian Penangsang menjadi luruh dan tawar. Sunan Kudus lantas menyuruh Penangsang untuk berpuasa selama 40 hari untuk mengembalikan kesaktian dan menghilangkan tuah Rajah Kalacakra.

Maksud Hadiwijaya untuk mengembalikan keris Pusaka Setan Kober, sebilah keris kondang sakti yang menjadi andalan Penangsang, kepada Sunan Kudus tetapi Penangsang berseteguh pada pendirian supaya Setan Kober cukup diterima Penangsang saja. Akhirnya,meskipun penuh kekecewaan Hadiwijaya kemudian menyerahkan Keris pusaka kepada Penangsang.
Tentang keris Setan Kober ini ada versi yang menyatakan bahwa pusaka tersebut sebenarnya adalah milik Sunan Kudus yang diberikan kepada Penangsang. Makanya Hadiwijaya ngotot hanya mau menyerahkan pusaka tersebut pada Sunan Kudus.

Mendapat tekanan dari Hadiwijaya tentu saja Penangsang tak bisa menyembunyikan rasa malu, marah, dan harga dirinya yang terusik. Pertengkaran hebat antara Hadiwijaya dan Penangsang pun tak bisa dihindari. Tak hanya bertengkar, bahkan keduanya juga sudah bersiap untuk mengadu ilmu kesaktian. Beruntung adu kesaktian antara kedua raja ini berhasil dilerai dan didamaikan oleh Sunan Kudus. Seorang Sunan yang sangat dihormati mereka. Saat dilerai oleh Sunan Kudus Penangsang sdh mencabut Keris Pusaka Setan Kober. Seketika itu juga Sunan Kudus memerintahkan Penangsang untuk menyarungkan keris pusaka tersebut, “sarungkan Penangsang! … Sarungkan Penangsang!… Sarungkan Penangsang!”
Meskipun dengan penuh keraguan akhirnya Penangsang menyarungkan keris pusaka Setan Kober ke warangkanya.

Sepulangnya Hadiwijaya, Penangsang protes kepada Sunan Kudus yang memerintahkan dirinya untuk menyarungkan keris pusaka Setan Kober. Lalu dengan gusar Sunan Kudus menjelaskan, maksud sarungkan itu adalah bukan sarungkan ke warangkanya tapi ke perut Hadiwijaya. Sekita itu juga Penangsang menyesali diri karena gagal memahami apa yang diperintahkan Sunan Kudus. Penangsang menderita dua “kekalahan” sekaligus yaitu, lunturnya kesaktian dan hilangnya kesempatan untuk mengakhiri hidup Hadiwijaya.
Peristiwa pertemuan Prabowo dan Jokowi di MRT itu sungguh memancing banyak tafsir dan respons. Cerita Hadiwijaya, Penangsang, dan Sunan Kudus memang telah berlangsung lama dan terjadi di atas konteks zamannya. Tetapi setidaknya akan semakin memperkaya imaginasi kita dalam memahami peristiwa MRT. Siapakah yang menjadi figur Penangsang, Hadiwijaya, dan Sunan Kudus dalam konteks MRT…? Silahkan berimaginasi!

Paryanto, Mahasiswa Politik Islam – Ilmu Politik, Pascasarjana UMY