Dalam rangka meningkatkan pengetahuan isu-isu internasional serta perlunya studi analisis politik internasional, Program Studi Doktor Politik Islam dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan kuliah profesor tamu yang bertemakan “Geopolitik Internasional dan Dampaknya pada Politik Indonesia”. Kulih profesor tamu ini diselenggarakan pada hari Sabtu (5/10) di Ruang Seminar Pascasarjana, UMY dan dihadiri oleh Mahasiswa Program Studi Doktor Politik Islam dan Ilmu Politik.

Prof. Bilveer Sigh,Ph.D, profesor dari National University of Singapore mengatakan bahwa dalam pembahasan kuliah umum ini membahas tiga permasalahan dalam geopolitik Internasional dan dampaknya pada politik Indonesia. ”Ada tiga hal yang dibahas yaitu arti bangkitnya cina untuk Indonesia, dampaknya bagi Indonesia dan adanya terorisme dan paham radikalisme yang semua diulas dengan konsep the Malacca Dilemma dan The Thucydides Trap,” paparnya.

Pada konsep The Malacca Dilemma dijelaskan oleh Bilveer bahwa ini merupakan siasat dari Cina untuk mengatasi dilema selat Malaka saat ini dengan fokus agar dapat masuk ke wilayah Papua. Untuk masuk kawasan Papua, Cina tidak melewati Selat Malaka. Beberapa negara di Asia Tenggara terlibat dalam permainan Cina, contoh yang paling jelas adalah Negara Myanmar. Selain itu juga dijelaskan konsep The Thucydides Trap yang diambil dari konsep sejarawan Thucydides dilihat realita saat ini bahwa Cina sedang naik daun dan kemudian akan bersanding dengan Amerika Serikat sebagai negara super power sehingga dalam hal ini mau tidak mau mengalami peperangan. “Saat ini dunia sedang mengalami perang dagang, dimana perang dagang tidak hanya perang dagang tetapi juga perang teknologi, perang politik serta perang diplomasi. Dan hal ini menyatakan bahwa Cina akan menjadi negara nomor satu di dunia. Perlu diketahui saat ini bahwa Asia Tenggara sudah ditakluki oleh Cina, bahkan di Indonesia pun, Papua dan Jawa sudah dikuasai oleh Cina,” imbunya.

Bilveer juga menjelaskan beberapa realita di Asia Tenggara, yaitu diantaranya adanya perang cyber, munculnya politik identitas, ketidak pastian pertumbuhan ekonomi di wilayah utara-selatan di berbagai negara Asia Tenggara, politik dalam negeri di negara Asia Tenggara berubah menjadi sebuah tantangan. “Melihat realita terdapat juga beberapa perubahan di Asia Tenggara yang dipengaruhi oleh adanya revolusi teknologi terkhusus revolusi digital informasi dan komunikasi. Dengan adanya internet dan sosial media, tekanan globalisasi dan pasar bebas serta menaikkan ekspektasi di level global dan dalam negeri serta tekanan dari seluruh sudut politik, dan perubahan ekonomi,” jelasnya.

Jaminder Sigh, dosen S. Rajaratnam School of International Studies Singapura juga menjelaskan bahwa Asia Tenggara bagian terpenting dalam geopolitik internasional dan wilayah penting dalam konflik kekuatan besar yaitu, US, Cina, Rusia, India dan Jepang. ”Selain itu, adanya fenomena isu lama dan baru tentang keamanan yang biasa disebut dengan isu tradisional dan isu modern, disisi lain merujuk sebuah kasus, bangkitnya radikalisme dan terorisme merupakan sesuatu hal yang harus diperhatikan di wilayah Asia Tenggara yang menunjukkan jaringan antara eksternal konflik di Asia Tengah dan negara di wilayah tersebut. Kemudian, kunci keamanan pada suatu wilayah adalah kemampuan negara untuk menenangkan isu dalam negeri. Sebaliknya terdapat isu konflik di Papua yang justru bisa memberikan kesempatan bagi kekuatan pihak luar untuk mengintervensi dalam urusan dalam negeri di Indonesia, yang sama konfliknya seperti di Myanmar, Thailand, Filipina, dan Malaysia,” tutupnya. (Sofia)