UMY Gelar Halaqoh Kebangsaan: Menuju Indonesia Berkemajuan

November 24, 2018 oleh : superadmin-pa

Harianjogja.com, BANTUL-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar halakah kebangsaan bertajuk “Menuju Indonesia Berkemajuan”. Acara yang bertempat di Sportorium UMY tersebut terselenggara atas kerja sama UMY dengan PP Muhammadiyah.

Berlangsung dari Rabu, 21 sampai 22 November 2018 halakah tersebut secara resmi dibuka oleh Agung Supriyanto, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY. Berbagai tokoh dihadirkan sebagai pembicara, Di antaranya Jend (Purn.) Wiranto (Menko Polhukam), Prof M Nasir (Menristekdikti), Prof Muhajir Effendi (Mendikbud), Jend (Pol.) M Tito Kanavian (Kapolri), Gunawan Budiyanto (Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Prof Achmad Nurmandi (Wakil Rektor Bidang kerja sama dan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Prof Abdul Munir Mulkan (Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta), dan Zuly Qodir (Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta).

Saat diwawancari awak media, Wiranto, mengatakan bahwa saat ini kita mesti belajar dari sejarah. Indonesia didirikan oleh berbagai tokoh dengan latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan di antara mereka tidak menjadi penghalang untuk bersatu. Seluruh elemen masyarakat kala itu bersatu untuk mewujudkan kemerdekaan.

Wiranto juga mengatakan, banyak tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam perjuangan tersebut. “Banyak sekali tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam proses pembentukan NKRI, kita harus berlajar dari situ,” tegas Menkopolhukan itu dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Kamis (22/11/2018).

Dalam halakah tersebut ada beberapa tema yang dibahas. Pada sesi pertema tema yang dibahas adalah “Pendidikan Tinggi yang Berkemajuan dalam Era Revolusi Tekhnologi”. Sesi kedua mengusung tema “Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah bagi Generasi Milenial”, dan pada sesi ketiga tema yang dibahasa adalah “Penegakan Hukum: Pemberantasan Kriminalitas, Terorisme, Korupsi, dan Narkoba”.

Irjen Pol Gatot Eddy Pramono selaku Arsena Kapolri yang mewakili M Tito Kanavian, mengatakan bahwa ada banyak sekali faktor-faktor yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangasa Indonesia, ada faktor internal dan eksternal. Persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan cara mengidentifikasi tidak hanya persamaan-persamaan dalam masyarakat melainkan juga perbedaan-perdaannya. Lalu dari hasil identifikasi tersebut harus lebih banyak ditonjolkan persamaannya.

Menurut Gatot, perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat memang sangat berpotensi menjadi penyebab perpecahan. “Di negara-negara Timur Tengah yang saat ini terjadi perang saudara masyarakatnya hanya terdiri, paling tidak tujuh suku, mereka bisa konflik. Apalagi di Indonesia yang suku-sukunya lebihnya, jadi potensinya lebih.”

Hal yang paling memungkinkan untuk meredam konflik dalam masyarakat bisa diminimalisir apabila semua kalangan ikut mengkampanyekan, terutama tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh cukup besar dalam suatu kelompok masyarakat.

Sedangkan untuk pesoalan berita bohong atau hoaks, menurut Gatot, apabila menerima suatu informasi baru, masyarakat kita cenderung langsung ingin menyebarkannya tanpa memverifikasi kevalidannya. “Kalau itu hoaks, jangan disebar. Kalau informasi tersebut pun itu benar, tetapi jika disebar kurang bermanfaat bagi orang lain lebih baik jangan disebar. Lebih baik disimpan aja,” tegas Gatot.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Munir Mulkan, juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah sebagai suatu gerakan dirancang sebagai penubuhan kebangsaan berbasis kemanusiaan bebas kriminalitas, narkoba, korupsi, apalagi terorisme.

“Jika ada warga dari gerakan ini yang terpapar terorisme, itu adalah kecelakan,” begitu ungkap Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta itu. Hal tersebut bisa dilihat bagaimana Muahammadiyah membangun lembaga-lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan dan lain sebagainya. Di mana semua itu tentu saja berbasis kemanusiaan.

Sumber: http://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2018/11/22/511/954459/umy-gelar-halakah-menuju-indonesia-berkemajuan