Buya Syafii Maarif Di Mata Anak Muda

Desember 15, 2019 oleh : superadmin-pa

Uskup Agung Semarang Robertus Rubiyatmoko (dua kiri) sowan ke rumah Buya Syafii Maarif (dua kanan) di Sleman, DIY. (Foto: iNews.id/Kuntadi)

Tulisan Moh. Shofan yang berjudul “Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Syafii” (Geotimes, 13/12/2019) memantik saya untuk memberikan perspektif atau setidaknya gambaran tentang sosok Buya Syafii dari pandangan kaum milenial serta meneropong sejauh mana pemikiran-pemikiran Buya relevan bagi konteks kekinian. Bukan saja karena saya menjadi peserta dalam short course tersebut, tetapi merupakan panggilan nurani dan intelektualitas saya sebagai seseorang yang sedang mempelajari intelektualitas dan spiritualitas Buya.

Meskipun saya sedikit ragu bahwa mayoritas kaum milenial telah mengenal atau minimal mengetahui tentang Buya Syafii, apalagi dalam tingkatan pemahaman komprehensif atas narasi besar pemikiran Buya tentang keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Kendati demikian, saya cukup optimis bahwa masih terdapat anak-anak muda Indonesia yang menaruh perhatian dan kajian serius terhadap pemikiran dan pengembangan gagasan-gagasan Buya.

Gambaran sosok pribadi Buya Syafii sepenuhnya dapat dibaca melalui buku otobiografinya yang berjudul Titik-titik Kisar di Perjalananku, sementara untuk memahami pemikirannya kaum milenial wajib membaca buku Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kedua buku ini menjadi rujukan inti ketika ingin memahami sosok pribadi dan intelektualisme Buya.

Saya mengawali pembahasan sosok Buya Syafii dari potret pribadinya yang sederhana. Publik mengenal Buya sebagai sosok penjelmaan kembali dari Mohammad Hatta, tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia yang tidak segan-segan menikmati fasilitas sederhana demi kesejahteraan masyarakat. Buya sering mengutip pemikiran-pemikiran brilian Hatta dan tentu sangat terpengaruh oleh pemikiran-pemikiranya.

Buya Syafii adalah sosok yang bisa menjadi teladan bagi kaum milenial bagaimana hidup dalam kesederhanaan, jauh dari hedonisme, ultra-konsumerisme dan pragmatisme sosial. Buya adalah sosok yang sederhana namun selalu dipenuhi dengan kompleksitas pemikiran yang selalu berusaha dengan keras untuk menghasilkan solusi-solusi konkret bagi permasalahan bangsa Indonesia.

Cermin kesederhanaan ini penting sekali untuk diinternalisasikan ke dalam pribadi kaum milenial sebagai langkah menekan pertumbuhan spirit berlebihan konsumerisme. Watak yang demikian dapat mempengaruhi gaya hidup dan otomatis kecenderungan berfikir. Biasanya, seseorang dengan tingkat konsumerisme yang tinggi akan mematikan kreativitas dan juga produktivitas. Artinya, konsumerisme ataupun hedonisme dapat menjadi permasalahan besar yang mampu menggerogoti intelektualitas kaum muda.

Kembali kepada Buya, bahwa di balik kesederhanaannya itu, Buya Syafii merupakan sosok yang dinamis, baik dalam perjalanan hidupnya maupun pemikirannya. Pasalnya, Buya mengalami apa yang disebut sebagai lompatan intelektual atau hijrah revolusioner, dari sosok fundamentalis bercita-cita Negara Islam menjadi sosok inklusif-toleran dan sangat demokratis dalam bernegara.

Buya mengalami dekonstruksi sekaligus rekonstruksi intelektual seratus delapan puluh derajat, dari seorang pejuang Negara Islam menjadi pejuang kemanusiaan. Buya tidak segan-segan berani membela kemanusiaan dari “tirani penafsiran Islam” yang eksklusif dan sewenang-wenang. Buya tidak pernah gentar apalagi gemetar mendapatkan cacian, hinaan bahkan ancaman dari orang lain. Sikapnya yang bijaksana dan lembut, justru memberikan ruang bagi seluruh pengkritiknya untuk bisa berdialog secara terbuka dan kritis.

Bagaimanapun, Buya adalah sosok yang pernah berada dalam perahu fundamentalisme yang penuh semangat tetapi sunyi dari pemikiran kritis-kontemplatif yang mendalam. Akan tetapi, setelah di bawah “asuhan” Prof. Fazlur Rahman, Buya mengubah pandangannya secara radikal, yang awalnya utopis-ideologis menjadi realistis-rasional, terutama pemahamannya tentang Negara Islam. Lompatan intelektual ini mempengaruhi cara pandangnya terhadap hubungan relasional antara Islam, Indonesia dan kemanusiaan.

Setelah melewati proses evolusi intelektual yang panjang inilah, sosok Buya mulai aktif mengkampanyekan pentingnya memahami Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan dalam satu bingkai dan satu tarikan nafas. Pergulatan intelektual yang cukup panjang telah menjadikan sosok Buya yang lebih humanis, inklusif dan kritis dalam memandang persoalan bangsa.

“Kelahiran kedua” Buya Syafii ini telah banyak mempengaruhi percaturan pemikiran keislaman di Indonesia. Bagaimana tidak, awalnya Buya adalah seorang yang sangat simpatik dan aktif mendukung ide Negara Islam, saat ini ia justru sangat lantang menentang dan mengkritisi gagasan Negara Islam. Maka tidak heran ketika MAARIF Institute membuat satu teater khusus yang menggambarkan perjalanan intelektual Buya, dengan judul “Fundamentalisme Insaf”.

Alih-alih simpatik, Buya justru tidak segan-segan memberikan kritik yang keras kepada kelompok-kelompok Islam yang masih saja memperjuangkan Negara Islam. Euforia bernegara Islam tampaknya adalah bentuk kesalahan cara pandang terhadap fenomena sejarah kekhilafahan dalam Islam.

Bagi Buya, pemerintahan sistem kekhilafahan hanya akan menciptakan otoritarianisme sebagaimana tergambarkan dalam sejarah panjang dinasti-dinasti Islam. Otoritarianisme akan sangat mengganggu tegaknya nilai-nilai kemanusiaan dan meniadakan tempat bagi keragaman.

Untuk itulah Buya Syafii juga selalu getol mengkampanyekan pentingnya budaya toleransi. Hal yang menarik dan jarang ditemui dari tokoh kebanyakan di Indonesia adalah sikap intelektualitas dan spiritualitasnya ini tidak hanya dapat ditemukan melalui berbagai tulisan-tulisannya, namun juga dapat langsung dilihat pada sikap dan laku kehidupan Buya dalam sehari-hari. Sikap toleransi Buya terhadap pemeluk agama dan keyakinan lain sangat mengakar, bukan saja terhadap pemeluk agama, tetapi bahkan terhadap seseorang yang mengaku sebagai ateis sekalipun.

Bagi Buya Syafii, atmosfer tersebut akan senantiasa tersemai dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat manakala masing-masing pihak dapat saling menghormati secara jujur dan tulus serta siap untuk hidup berdampingan secara damai di muka bumi di atas prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Emosi saling mengalahkan, anggapan paling benar, klaim keselamatan dan hujatan kesesatan, harus dihilangkan dalam pribadi kehidupan masyarakat.

Oleh karena itu, Buya juga selalu mengajak kepada umat Islam untuk selalu melakukan self correction, mengarahkan telunjuk kepada dirinya sendiri secara sungguh-sungguh dan cerdas. Dengan penuh keberanian, umat Islam harus mau dan mampu memberikan kritik dan evaluasi terhadap ketertinggalannya.

Caranya adalah menempatkan al-Qur’an sebagai lensa humanisme-transendental serta sumber moral utama dan pertama dalam setiap sendi sejarah kehidupan umat manusia. Buya melihat bahwa sebagai kitab suci, al-Qur’an memiliki sebuah benang merah pandangan dunia yang sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, sebagai pedoman dan acuan tertinggi dalam semua hal yang dapat dijadikan sebagai basis kritik dan evaluasi pengembangan masyarakat Muslim.

Watak kontemplatif dan reflektif-kritis inilah yang sekiranya dapat menjadi representasi penggambaran pemikiran Buya dalam konteks keislaman dan keindonesiaan.

SKK-ASM Angkatan 3, Maarif Fellowship (MAF) MAARIF Institute for Culture and Humanity, Alumni Qur’anic Studies IAIN Salatiga